Tak Ingin Selamanya Bergantung Pada Sektor Tambang, Pemkab Berau Siapkan Sektor Produktif Sebagai Kekuatan Ekonomi Baru Berkelanjutan
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Kabupaten Berau mulai mengirim sinyal kuat tentang arah baru pembangunan ekonominya. Di tengah tingginya capaian investasi dan dominasi sektor pertambangan selama bertahun-tahun, pemerintah daerah kini mulai menggeser fokus menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan dengan membuka ruang lebih luas bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pertanian, perikanan, hingga pariwisata.
Langkah ini bukan
sekadar wacana. Data terbaru menunjukkan perubahan struktur ekonomi mulai
terlihat, bersamaan dengan masuknya investasi yang terus meningkat dan strategi
hilirisasi yang mulai diarahkan untuk memberi manfaat lebih besar kepada
masyarakat lokal.
Komitmen tersebut
ditegaskan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau dalam kegiatan Fasilitasi
Kemitraan Bidang Penanaman Modal dan Sosialisasi Peraturan Menteri Investasi
dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Nomor 3 Tahun
2025 yang digelar bersama jajaran Kementerian Investasi/BKPM RI dan Dinas
Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Kalimantan
Timur baru-baru ini.
Wakil Bupati Berau,
Gamalis, mengatakan pembangunan ekonomi daerah ke depan tidak lagi hanya diukur
dari besarnya investasi yang masuk, tetapi sejauh mana investasi tersebut mampu
menciptakan efek berganda bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.
“Menurut kami
kemitraan antara investor dan UMKM menjadi salah satu strategi utama agar
pertumbuhan ekonomi daerah tidak hanya dinikmati kelompok tertentu, tetapi
mampu menciptakan peluang usaha baru, lapangan pekerjaan, hingga penguatan
ekonomi masyarakat di tingkat bawah,” terangnya.
Juga berharap dukungan berkelanjutan dari
Kementerian Investasi dan Hilirisasi serta DPMPTSP Provinsi Kalimantan Timur
agar ekosistem investasi daerah semakin kuat dan memberi ruang tumbuh yang
lebih besar bagi para pelaku UMKM.
“Apalagi saat ini
menempatkan pemberdayaan UMKM sebagai salah satu prioritas pembangunan
nasional. Selain menjadi tulang punggung ekonomi daerah, sektor ini dinilai
memiliki peran penting dalam memperluas kesempatan kerja, meningkatkan
produktivitas masyarakat, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional,” ujarnya.
Menurut Gamalis,
semangat tersebut juga selaras dengan arah pembangunan nasional menuju
Indonesia Emas 2045 melalui delapan misi Asta Cita yang menekankan pertumbuhan
ekonomi yang maju, mandiri, berdaulat, dan berkelanjutan. Salah satu instrumen
yang diharapkan mampu mempercepat transformasi tersebut adalah implementasi
Peraturan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Nomor 3 Tahun 2025.
Regulasi itu diharapkan dapat memperkuat pola kemitraan antara usaha besar dan
UMKM melalui mekanisme yang lebih efektif, transparan, dan berkeadilan.
“Melalui regulasi
ini, hubungan kemitraan diharapkan semakin saling menguntungkan sehingga pelaku
usaha lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi mampu naik kelas dan mengambil
peran lebih besar dalam rantai nilai investasi,” katanya. Di tengah upaya transformasi
tersebut, capaian investasi Berau menunjukkan tren yang cukup agresif.
Sepanjang 2025,
realisasi investasi daerah tercatat mencapai Rp8,76 triliun atau setara 194,71
persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp4,5 triliun. Capaian itu menjadi
salah satu indikator meningkatnya kepercayaan investor terhadap iklim usaha di
Berau. Sementara pada tahun 2026, target investasi kembali dinaikkan menjadi
Rp8 triliun dan hingga triwulan pertama telah terealisasi sebesar Rp1,2
triliun. Namun yang lebih menarik dari sekadar angka investasi adalah perubahan
wajah ekonomi Berau yang mulai terlihat.
Jika selama ini
sektor pertambangan dan penggalian menjadi tulang punggung utama ekonomi
daerah, kini kontribusinya mulai mengalami penurunan. Data Pemkab Berau
menunjukkan kontribusi sektor pertambangan terhadap Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB) turun dari 58,8 persen pada 2024 menjadi 48,11 persen pada 2025.
Penurunan hampir 10 persen tersebut dinilai menjadi momentum penting bagi
daerah untuk memperkuat sektor-sektor produktif lain yang lebih berkelanjutan.
Di saat yang sama,
sektor pertanian dan perikanan mulai menunjukkan peran yang semakin besar
dengan kontribusi mencapai 13,47 persen terhadap struktur ekonomi daerah.
Selain itu, sektor pariwisata juga terus didorong menjadi sumber pertumbuhan
baru yang mampu menciptakan nilai tambah lebih luas bagi masyarakat.
Perubahan arah ini
menjadi penanda bahwa Berau tengah membangun fondasi ekonomi jangka
panjang—bergeser dari ketergantungan pada sumber daya alam menuju ekonomi yang
lebih beragam, inklusif, dan tahan terhadap dinamika global.
Di akhir sambutannya,
Gamalis mengajak seluruh pelaku usaha dan UMKM yang hadir untuk memanfaatkan
momentum sosialisasi tersebut sebagai ruang memperluas jaringan, memperkuat
kapasitas usaha, dan menangkap peluang kemitraan yang terbuka. Sebab menurutnya,
masa depan ekonomi Berau tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi yang
masuk, tetapi juga oleh seberapa besar masyarakat lokal mampu ikut tumbuh dan
menjadi bagian dari perubahan itu. (sep/FN/Advertorial)