Ekti Imanuel: Rekrutmen Guru di Pedalaman Harus Prioritaskan Putra Daerah

img

Foto : Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Ekti Imanuel

POSKOTAKALTIMNEWS, SAMARINDA: Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Ekti Imanuel, menyuarakan kekhawatiran atas minimnya tenaga pendidik di wilayah pedalaman, khususnya di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) dan Mahakam Ulu (Mahulu).

Ia menegaskan bahwa pemerintah perlu menjadikan putra-putri daerah sebagai prioritas utama dalam rekrutmen guru di wilayah terpencil.

Menurut Ekti, rendahnya angka keberlanjutan tenaga pengajar di daerah pedalaman disebabkan oleh banyaknya guru yang direkrut dari luar daerah.

Kondisi geografis yang berat, terbatasnya fasilitas, serta rendahnya jaminan kesejahteraan menjadi alasan utama mengapa mereka tidak bertahan lama dan kerap mengajukan mutasi setelah beberapa tahun mengabdi.

"Rekrutmen guru sebaiknya difokuskan pada putra daerah. Mereka lebih punya ikatan emosional dengan lingkungan sekitar dan kemungkinan besar akan bertahan lebih lama dibanding tenaga pengajar dari luar," ujar Ekti, Jumat (20/6/25).

Politisi Partai Gerindra itu juga menyoroti bahwa pendekatan rekrutmen saat ini masih belum mempertimbangkan keberlanjutan sistem pendidikan di daerah tertinggal.

 Menurutnya, ketimpangan ini bukan hanya terjadi dalam sektor pendidikan, melainkan juga terlihat jelas di sektor kesehatan.

Ia mencontohkan kondisi dokter yang ditugaskan ke Mahulu dan daerah terpencil lainnya. Banyak dari mereka enggan bertahan karena sulit mengakses peluang tambahan seperti membuka praktik mandiri atau mencari penghasilan tambahan hal yang lazim dilakukan tenaga kesehatan di wilayah perkotaan.

"Di Mahakam Ulu, misalnya, kondisi ekonomi dan infrastruktur sangat berbeda dengan di kota. Guru dan dokter tidak memiliki banyak alternatif untuk menambah penghasilan. Ini membuat mereka enggan bertahan lama," jelas Ekti.

Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah agar kebijakan pendidikan di wilayah pedalaman tidak hanya terfokus pada pembangunan fisik seperti gedung sekolah, tetapi juga diarahkan pada penguatan sumber daya manusia lokal. Pelatihan, pendidikan, dan pemberdayaan putra daerah menjadi strategi jangka panjang yang wajib dikedepankan.

Menurut Ekti, keberhasilan pendidikan di daerah terpencil sangat bergantung pada kualitas dan komitmen jangka panjang para pendidiknya. Untuk itu, investasi sumber daya manusia harus dimulai dari pembentukan karakter dan penanaman komitmen sejak awal.

"Tenaga pendidik yang tahan banting dan punya loyalitas tinggi tidak bisa dibentuk dalam semalam. Harus ada fondasi kuat yang dimulai dari lingkungan sendiri, dengan dukungan penuh dari pemerintah dan masyarakat," tegasnya.

Ekti berharap pendekatan ini dapat diadopsi sebagai bagian dari kebijakan strategis Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten/Kota, guna menjawab tantangan pendidikan di wilayah terluar, tertinggal, dan terisolasi di Kalimantan Timur (Kaltim).(ADV DPRD KALTIM)