Kebangkitan Dalam Mengatasi Stunting di Berau, Dari Titik Terendah ke Tiga Besar

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Perjalanan Kabupaten Berau dalam menekan angka stunting kini memasuki babak baru. Dalam waktu yang relatif singkat, daerah ini berhasil membalikkan keadaan secara drastis dari posisi terbawah hingga menembus tiga besar. Sebuah capaian yang tak hanya mengejutkan, tetapi juga memberi harapan besar untuk melangkah lebih jauh.

 

Wakil Bupati Berau, Gamalis, tak bisa menutupi rasa syukurnya atas hasil tersebut. Ia menyebut keberhasilan ini sebagai buah dari kerja kolektif yang melibatkan banyak pihak, mulai dari Pemerintah Daerah, Kecamatan, Kampung, tenaga kesehatan, hingga peran aktif masyarakat dan media.

 

“Jujur menurut kami kalau kita melihat ke belakang, kita pernah berada di posisi paling bawah. Tapi hari ini, kita sudah berdiri di peringkat tiga besar. Ini bukan hal kecil, ini lompatan besar,” ujarnya.

 

Menurut Gamalis, salah satu kunci perubahan terletak pada pembenahan sistem pendataan yang selama ini menjadi tantangan serius. Karenanya Pemkab Berau mendorong seluruh Kecamatan untuk lebih disiplin dan akurat dalam melakukan input data, sehingga kondisi riil di lapangan bisa tergambar dengan jelas.

 

Hasilnya mulai terlihat, sejumlah kecamatan seperti Derawan, Sambaliung, dan Talisayan menunjukkan performa yang sangat baik, dengan capaian input data bahkan menyentuh angka di atas 80 persen. Sementara kecamatan lainnya juga menunjukkan tren positif dengan rata-rata di atas 50 persen.

 

“Perbaikan data ini sangat penting. Dari data yang akurat, kita bisa menentukan langkah yang tepat. Dan hari ini kita melihat hasilnya,” jelasnya.

 

Meski demikian, Gamalis mengingatkan bahwa capaian ini bukanlah garis akhir. Justru, ini menjadi titik awal untuk melangkah lebih jauh. Target berikutnya pun tak main-main: meraih posisi pertama. Ia mengakui, persaingan untuk mencapai puncak tidaklah mudah, terutama dengan kuatnya daerah lain seperti Kutai Kartanegara. Namun, dengan semangat dan pengalaman yang telah dilalui, ia optimistis Berau mampu bersaing.

 

“Kita sudah membuktikan bisa naik dari posisi 10 ke posisi tiga. Artinya, peluang itu ada. Tinggal bagaimana kita menjaga konsistensi, memperkuat kolaborasi, dan tidak berjalan sendiri-sendiri,” tegasnya.

 

Di balik optimisme tersebut, masih ada tantangan nyata yang harus dihadapi di lapangan. Salah satu yang paling krusial adalah meningkatkan partisipasi ibu hamil dan ibu dengan anak usia di bawah dua tahun untuk aktif datang ke posyandu.

 

Dalam kesempatan itu Gamalis menilai, kelompok ini merupakan garda terdepan dalam upaya pencegahan stunting. Tanpa kehadiran mereka, proses deteksi dini dan intervensi akan berjalan lambat.

 

“Ini PR besar kita. Bagaimana kita bisa memastikan mereka datang ke posyandu. Karena di situlah kita bisa mengidentifikasi masalah lebih cepat dan memberikan penanganan yang tepat,” ungkapnya.

 

Ia juga menekankan pentingnya peran lintas sektor dalam mendukung program ini. Mulai dari perencanaan melalui Musrenbang, dukungan anggaran, hingga pelaksanaan di tingkat kampung harus berjalan selaras dan terintegrasi. Ke depan, Pemerintah Kabupaten Berau berencana melakukan berbagai penguatan program, termasuk peningkatan kualitas intervensi di tingkat kampung serta optimalisasi peran kader dan tenaga kesehatan.

Dengan capaian yang telah diraih dan semangat kolaborasi yang terus terjaga, Berau kini tidak lagi sekadar berjuang keluar dari ketertinggalan. Lebih dari itu, daerah ini tengah menapaki jalan menuju posisi puncak membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama. (sep/FN)