Prestasi KLA Madya Berau Dewan Nilai Perlu Dibuktikan Di Kehidupan Nyata Anak

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Predikat Kabupaten Layak Anak (KLA) kategori madya yang diraih Kabupaten Berau patut diapresiasi. Capaian ini menunjukkan adanya komitmen Pemkab Berau  dalam menghadirkan lingkungan yang lebih ramah bagi anak. Namun di balik penghargaan tersebut, muncul satu pertanyaan penting: apakah anak-anak di Berau sudah benar-benar terlindungi dalam kehidupan sehari-hari?

 

Sekretaris Komisi III DPRD Berau, Ratna, mengingatkan agar capaian tersebut tidak berhenti sebagai kebanggaan administratif semata. Menurutnya, status KLA harus menjadi titik awal untuk menghadirkan perlindungan yang lebih nyata dan dirasakan langsung oleh anak-anak.

 

“Dari raihan itu tentu status ini akan naik lagi secara administratif ke Nindya dan seterusnya. Tapi harapan mendasar ini jangan hanya formalitas atau administratif saja,” ujarnya.

 

Apalagi, kenaikan level dalam penilaian KLA memang mencerminkan adanya upaya dan sistem yang dibangun Pemkab Berau. Namun, indikator tersebut belum tentu sepenuhnya menggambarkan kondisi riil di lapangan. Kasus kekerasan terhadap anak, menurutnya, masih menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan. Artinya, masih ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan, meskipun penghargaan telah diraih.

 

Di sinilah, kata Ratna, pentingnya menggeser orientasi dari sekadar memenuhi indikator penilaian menuju program yang benar-benar menyentuh kebutuhan anak. “Makanya kita mau supaya penguatan program yang benar-benar menyentuh kebutuhan anak harus menjadi prioritas,” jelasnya.

 

Ia menekankan, perlindungan anak tidak cukup diwujudkan dalam bentuk regulasi, dokumen, maupun penghargaan. Lebih dari itu, diperlukan langkah konkret yang konsisten dan berkelanjutan.

 

Menurutnya, anak-anak membutuhkan ruang yang aman, lingkungan yang mendukung, serta kehadiran negara dalam setiap aspek kehidupan mereka—mulai dari keluarga, sekolah, hingga ruang publik. Selain itu, Ratna juga menyoroti pentingnya memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal, tidak hanya dari sisi fisik tetapi juga mental dan emosional. Hal ini menjadi kunci dalam menciptakan generasi yang sehat, kuat, dan berdaya saing di masa depan.

 

Upaya tersebut, lanjutnya, tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, aparat penegak hukum, hingga masyarakat. Dukungan anggaran yang memadai, sumber daya manusia yang kompeten, serta konsistensi dalam menjalankan program juga menjadi faktor penentu keberhasilan.

 

Tanpa itu semua, status KLA dikhawatirkan hanya akan menjadi capaian di atas kertas, tanpa perubahan signifikan dalam kehidupan anak-anak.

 

“Jangan sampai kita bangga dengan status, tapi anak-anak kita masih belum benar-benar terlindungi,” tegasnya.

Pada akhirnya, predikat KLA bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan setiap anak di Berau dapat tumbuh dengan aman, sehat, dan bahagia bukan hanya dalam laporan, tetapi dalam kenyataan sehari-hari. (sep/FN/Advertorial)