Berwisata Susur Sungai Pulau Besing Menanti Bekantan Jadi Daya Tarik Bagi Wisatawan Mancanegara
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Mesin perahu yang membawa sejumlah wisatawan mancanegara berlalu perlahan membelah aliran sungai yang tenang. Di sepanjang bahu sungai kiri-kanan, hutan mangrove berdiri rapat menyembunyikan siklus kehidupan di dalamnya. Dalam keheningan, mata wisatawan akan selalu tertuju ke pepohonan yang rimbun, menanti satu momen yang tak selalu datang, yaitu kemunculan Bekantan, satwa endemik khas Kalimantan.
Di Kampung Pulau
Besing, Kabupaten Berau, pengalaman seperti ini bukan sekadar perjalanan wisata
biasa. Ini adalah perjalanan menyusuri alam liar, di mana keberuntungan dan
kesabaran menjadi bagian dari daya tarik utama.
Bekantan, primata
berhidung panjang khas Kalimantan, menjadi ikon dari wisata susur sungai yang
kini dikembangkan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pulau Besing. Satwa
endemik yang semakin sulit dijumpai di banyak tempat ini justru masih dapat
dilihat langsung di habitat aslinya di kawasan tersebut.
“Pemandangan
sederhana ini menurut kami yang dicari wisatawan sebenarnya, bukan hanya
jalan-jalan tapi pengalaman. Melihat bekantan langsung di alamnya itu sesuatu
yang berbeda,” ujar Ketua Pokdarwis Pulau Besing, Aprianto.
Tak hanya bekantan,
perjalanan ini juga kerap menghadirkan kejutan lain. Kalong kelelawar berukuran
besar sering terlihat bergelantungan di pepohonan atau terbang melintasi langit
senja. Sesekali, satwa khas Kalimantan lainnya turut menampakkan diri, menambah
kesan liar dan alami yang sulit ditemukan di destinasi wisata modern.
Untuk menikmati
pengalaman ini, Pokdarwis menyediakan dua pilihan paket perjalanan. Wisatawan
dapat memulai perjalanan dari Pelabuhan Rajjanta Tanjung Redeb dengan tarif
Rp1,5 juta, atau dari Pelabuhan Kampung Pulau Besing dengan tarif Rp600 ribu.
Setiap perahu dapat menampung hingga delapan orang.
Durasi perjalanan
umumnya berkisar antara satu hingga satu setengah jam. Namun, waktu tersebut
tidak sepenuhnya pasti. Banyak atau sedikitnya satwa yang ditemui akan
menentukan lamanya perjalanan sebuah konsep yang justru menjadi daya tarik
tersendiri.
“Tidak bisa
dipastikan, karena ini alam. Justru di situ letak sensasinya,” kata Aprianto.
Di balik geliat
wisata ini, ada cerita tentang keterlibatan masyarakat yang menjadi fondasi
utama pengembangannya. Warga lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku
langsung dalam aktivitas wisata.
Mereka yang memiliki
perahu dilibatkan sebagai pengemudi susur sungai, sementara warga yang memiliki
usaha atap nipah turut berkontribusi menghadirkan atraksi budaya yang
memperkaya pengalaman wisata.
“Kami berupaya agar
masyarakat benar-benar terlibat. Jadi bukan hanya wisata yang berkembang, tapi
juga ekonomi warga ikut bergerak,” jelasnya.
Pengembangan wisata
Pulau Besing sendiri tidak berjalan sendirian. Dukungan datang dari berbagai
pihak, mulai dari pemerintah kampung, kabupaten, hingga provinsi. Sejumlah
perusahaan di sekitar wilayah juga turut berkontribusi melalui bantuan sarana
dan prasarana.
Meski demikian,
Aprianto mengakui bahwa dampak ekonomi yang dirasakan saat ini masih belum
besar. Namun, optimisme tetap terjaga. Berbagai upaya terus dilakukan, mulai
dari pembenahan fasilitas, peningkatan kualitas layanan, hingga promosi yang
lebih gencar melalui media sosial dan kerja sama dengan instansi terkait.
“Kami ingin
memastikan pengunjung merasa nyaman. Kalau pengalaman mereka baik, promosi akan
berjalan dengan sendirinya,” ujarnya.
Pulau Besing kini
perlahan membangun identitas sebagai destinasi ekowisata yang tidak hanya
menjual keindahan, tetapi juga keberlanjutan. Di tengah maraknya wisata instan
dan serba buatan, kampung ini menawarkan sesuatu yang semakin langka: keaslian.
Keheningan sungai, rimbunnya hutan, dan momen singkat saat bekantan muncul di antara dedaunan menjadi pengalaman yang tak tergantikan.
Bagi sebagian orang,
ini mungkin sekadar perjalanan singkat. Namun bagi Pulau Besing, ini adalah
langkah panjang menuju masa depan wisata berbasis alam dan masyarakat. (sep/FN)