Dirut PT Tunggang Parangan Sebut Beban Operasional 35 Persen dari Pendapatan

img

Direktur Utama PT Tunggang Parangan, Awang M. Luthfi. (Kriz)

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Salah satu perusahaan daerah Kabupaten Kutai Kartanegara yang belakangan mendapat sorotan atas kinerjanya adalah Perusda Tunggang Parangan. Perusahaan plat merah tersebut dianggap minim kontribusi untuk mendongkrak peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kutai Kartanegara.

Direktur PT Tunggang Parangan Awang M Lutfi angkat bicara menyikapi persoalan tersebut. Ia mengklaim berhasil menekan beban operasional perusahaan hingga tinggal sekitar 35 persen dari total pendapatan.

Capaian tersebut disebut menjadi bagian dari proses pemulihan dan penataan internal perusahaan daerah milik Kabupaten Kutai Kartanegara itu setelah sebelumnya sempat dibebani berbagai persoalan lama yang menggerus keuangan perusahaan.

 

Ia mengatakan saat dirinya mulai memimpin perusahaan pada 2021, kondisi perusahaan berada dalam situasi yang cukup berat dengan nilai kerugian mencapai puluhan miliar rupiah.

Namun secara perlahan perusahaan mulai pulih dan kembali mencatatkan pendapatan positif sejak 2022.

Ia menjelaskan, selama beberapa tahun terakhir perusahaan masih harus menyelesaikan berbagai kewajiban lama, mulai dari hutang pajak, perkara perdata, pesangon, hingga kewajiban lainnya yang nilainya mencapai miliaran rupiah.

Kondisi tersebut sempat membuat beban perusahaan membengkak hingga menyentuh lebih dari 50 persen dari total pendapatan.

“Kalau dianggap seharusnya biaya operasional kami hanya sekitar 20 sampai 30 persen dari pendapatan, kenyataannya pernah mencapai 40 sampai 50 persen. Bahkan tertinggi sempat menyentuh 52 persen dari total pendapatan. Tapi itu bukan hanya untuk operasional, melainkan juga membayar hutang lama, pesangon, pajak, dan kewajiban lainnya,” ujarnya saat ditemui pada Kamis (7/5/2027).

Menurut Awang, kondisi perusahaan kini mulai jauh lebih sehat setelah berbagai persoalan lama diselesaikan secara bertahap.

Efisiensi operasional juga terus dilakukan sehingga beban perusahaan dapat ditekan dan pendapatan perusahaan bisa lebih optimal.

“Karena itulah operasional perusahaan saat ini sangat efisien. Biaya operasional kami hanya berkisar 35 persen dari total pendapatan, sehingga perusahaan bisa berjalan lebih optimal. Target kami adalah terus memaksimalkan usaha yang ada dengan biaya operasional yang semakin rendah, tetapi tetap mampu meningkatkan pendapatan perusahaan,” kata dia.

Untuk sektor usaha, PT Tunggang Parangan saat ini masih berfokus pada bidang maritim, khususnya jasa tunda kapal di kawasan Sungai Mahakam melalui pola kemitraan bersama Pelindo.

Selain itu, perusahaan juga menjalankan usaha jasa RKBM dan sejumlah usaha kecil lainnya sebagai sumber pendapatan tambahan.

Meski belum melakukan ekspansi besar-besaran, perusahaan mulai memperluas pengembangan usaha ke wilayah Kota Bangun dan menyiapkan rencana pengembangan ke kawasan Sebulu serta wilayah lain di sepanjang Sungai Mahakam sesuai kemampuan perusahaan.

Pada 2022, realisasi laba perusahaan tercatat sebesar Rp539 juta dengan dividen atau kontribusi PAD sebesar Rp64 juta dari target kontrak kinerja Rp2 miliar.

Kemudian pada 2023, realisasi laba meningkat menjadi Rp1,9 miliar dengan kontribusi PAD sebesar Rp381 juta dari target Rp2,5 miliar.

Peningkatan kembali terjadi pada 2024 dengan realisasi laba mencapai Rp2,94 miliar atau hampir menyamai target kontrak kinerja Rp3 miliar. Dari capaian tersebut, perusahaan menyetorkan dividen atau PAD sebesar Rp884 juta kepada daerah.

Sementara pada proyeksi 2025 sebelum penyelesaian perkara perdata, laba perusahaan diperkirakan mencapai Rp4,12 miliar atau melampaui target kontrak kinerja Rp3,5 miliar. Namun setelah adanya penyelesaian perkara perdata dan kewajiban perusahaan lainnya perusahaan tidak menghasilkan PAD sama sekali.

Menurut Awang, kondisi itu menunjukkan bahwa perusahaan masih terus menanggung dampak penyelesaian persoalan lama meskipun kinerja usaha dan pendapatan perusahaan mulai meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun.

“Jadi itulah proses recovery yang kami jalani. Keuntungan perusahaan memang masih banyak digunakan untuk menyelesaikan kewajiban lama, tetapi Alhamdulillah perusahaan tetap bisa bertahan, sehat, dan terus menghasilkan PAD untuk daerah,” ungkapnya.

Ia menyebut PT Tunggang Parangan juga berhasil memperoleh predikat BUMD sehat kategori AA Plus dengan nilai di atas 90 persen berdasarkan penilaian BPKP pada tahun 2024 lalu.

Predikat tersebut dinilai menjadi bukti bahwa tata kelola perusahaan berjalan transparan, sehat, dan sesuai aturan.

Selain melakukan efisiensi, perusahaan juga menerapkan pola kerja sederhana dengan hanya memiliki satu direktur serta jumlah manajer dan karyawan yang terbatas.

Langkah tersebut dilakukan agar perusahaan tetap mampu bertahan dan berkembang di tengah proses recovery yang masih berjalan.

“Intinya bagi BUMD itu adalah survive dengan cara efisien. Kami menata perusahaan supaya bersih, jelas, dan transparan. Semua informasi perusahaan juga bisa diakses melalui website karena kami ingin masyarakat tahu bahwa perusahaan ini dikelola secara terbuka,” tutupnya. (kriz)

Realisi Pendapatan dan PAD PT Tunggang Parangan Kutai Kartanegara

 

2022

Realisasi Laba: Rp539.335.655

Kontrak Kinerja: Rp2.000.000.000

Dividen (PAD): Rp64.422.821

 

2023

Realisasi Laba: Rp1.906.074.505

Kontrak Kinerja: Rp2.500.000.000

Dividen (PAD): Rp381.800.000

 

2024

Realisasi Laba: Rp2.949.977.437

Kontrak Kinerja: Rp3.000.000.000

Dividen (PAD): Rp884.993.231

 

Prog. 2025 (Sebelum Perdata)

Realisasi Laba: Rp4.128.480.301

Kontrak Kinerja: Rp3.500.000.000

Dividen (PAD): 0

 

Prog. 2025 (Setelah Perdata)

Realisasi Laba: Rp83.271.911

Kontrak Kinerja: Rp3.500.000.000

Dividen (PAD): 0