Dari Kampung Tumbit Dayak, Bekudung Betiung Didorong Masuk Dalam Kharisma Event Nusantara

img

Salah satu pertunjukan adat dan budaya Dayak Ga’ai yang ditampilkan dalam Festival Keudung Betiung, yang berlangsung hingga 30 Juni 2026. (foto : sep/fn)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Di tengah derasnya modernisasi yang perlahan menggeser tradisi lokal, masyarakat Kampung Tumbit Dayak, Kecamatan Sambaliung, kembali menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi identitas yang terus dijaga dan dihidupkan melalui Festival adat Bekudung Betiung yang dirangkai dengan peringatan HUT ke-263 Kampung Tumbit Dayak.

 

Lebih dari sekadar perayaan tahunan, agenda budaya tersebut kini diarahkan menjadi etalase kearifan lokal Berau yang ditargetkan mampu menembus agenda nasional.

 

Pembukaan kegiatan dilakukan langsung oleh Wakil Bupati Berau, Gamalis, Kamis (25/6/2026), yang menegaskan pentingnya menjaga keberlangsungan budaya daerah melalui kolaborasi seluruh pihak.

 

Menurut Gamalis, Bekudung Betiung bukan hanya agenda seremonial, tetapi ruang menjaga identitas masyarakat Berau sekaligus peluang memperkenalkan budaya lokal ke tingkat yang lebih luas.

 

“Bekudung Betiung harus terus dikembangkan tanpa meninggalkan nilai adatnya agar memiliki daya tarik yang lebih besar dan dapat masuk dalam Kharisma Event Nusantara. Budaya lokal harus menjadi kekuatan yang membawa nama daerah,” ujarnya.

 

Ia juga mengapresiasi keterlibatan perusahaan yang selama ini ikut menopang keberlangsungan kegiatan budaya di wilayah sekitar operasional, termasuk PT Berau Coal. Dukungan tersebut dinilai menjadi bentuk nyata sinergi antara pembangunan ekonomi dan pelestarian budaya.

 

Community Relations Manager PT Berau Coal, Muhammad Sulaiman, menyampaikan perusahaan bersama mitra kerja kembali mengambil bagian dalam penyelenggaraan Bekudung Betiung sebagai bentuk dukungan terhadap masyarakat Kampung Tumbit Dayak. Menurutnya, festival ini memiliki potensi besar menjadi magnet budaya Kabupaten Berau apabila terus dikembangkan secara konsisten.

 

“Sebagai bagian dari lingkungan masyarakat sekitar, kami ingin ikut memastikan kegiatan budaya seperti Bekudung Betiung tetap berjalan dan semakin dikenal. Harapannya ke depan event ini dapat masuk dalam Kharisma Event Nusantara dan menjadi kebanggaan Berau,” katanya.

 

Bagi masyarakat Kampung Tumbit Dayak, keberlangsungan festival adat ini bukan perkara sederhana. Kepala Kampung Tumbit Dayak, Ahmad Jamlan, menyebut dukungan berbagai pihak menjadi faktor penting agar tradisi tetap terjaga di tengah keterbatasan anggaran.

 

“Alhamdulillah kegiatan ini terus berjalan karena dukungan perusahaan dan para mitra yang selama ini hadir bersama masyarakat. Ini bukan hanya soal acara, tetapi menjaga budaya agar tidak hilang,” ungkapnya.

 

Bekudung Betiung akan berlangsung hingga 30 Juni 2026 dengan beragam rangkaian kegiatan yang merekam kehidupan masyarakat Dayak dari masa ke masa. Mulai dari tradisi membuat lemang, simulasi sejarah bertani, lomba menyumpit, lomba perahu, hingga pertunjukan seni tradisional.

Dari Tumbit Dayak, sebuah pesan kembali ditegaskan: budaya yang dijaga hari ini bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk diwariskan dan dikenalkan ke panggung yang lebih luas.  (sep/FN)