Keindahan Geosite Berau Belum Cukup Antar ke Geopark Nasional, Tim Verifikator Soroti Minimnya Edukasi Geologi bagi Wisatawan

img

Prof Mega Fatimah Rosana (Ketua Tim Verifikator Geopark Sangkulirang-Mangkalihat). Foto : sep/fn

 

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Keindahan bentang alam yang dimiliki sejumlah geosite di Kabupaten Berau memang berhasil memikat ribuan wisatawan dan menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Namun, di balik pesona tersebut, Tim Verifikator Geopark Sangkulirang-Mangkalihat menemukan pekerjaan rumah yang dinilai cukup mendasar.

 

Dimana sebagian besar geosite di Berau masih belum mampu menyampaikan nilai edukasi geologi kepada para pengunjung, padahal aspek tersebut menjadi salah satu syarat utama dalam pengembangan kawasan geopark menuju pengakuan sebagai Geopark Nasional.

 

Temuan itu menjadi salah satu catatan penting dalam rangkaian verifikasi lapangan yang dilakukan tim pada 6 hingga 10 Juli 2026 di sejumlah geosite di Kalimantan Timur, termasuk Kabupaten Berau. Selama proses penilaian, tim mengunjungi beberapa lokasi unggulan seperti Geosite Labuan Cermin di Kecamatan Biduk-Biduk, Wisata Air Panas Asin Pemapak di Kampung Biatan Bapinang, Kecamatan Biatan, hingga Tanjung Sinondok di Kampung Teluk Sumbang.

 

Ketua Tim Verifikator Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, Prof Mega Fatimah Rosana, mengatakan secara umum kondisi geosite di kawasan tersebut sudah menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Pengelolaan destinasi dinilai semakin baik, masyarakat mulai terlibat aktif dalam kegiatan pariwisata, dan manfaat ekonomi dari keberadaan geosite juga mulai dirasakan.

 

Namun menurutnya, keberhasilan itu belum sepenuhnya memenuhi konsep geopark yang sesungguhnya. "Menurut kami pemanfaatannya selama ini lebih kepada aspek pariwisata dan ekonominya sudah berjalan. Tetapi kalau nanti sudah berlabel geopark, harus ditambah informasi yang bersifat edukasi," ujarnya Senin, (10/7/2026) di kantor Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan (Disbudpar)  Berau.

 

Ia menjelaskan, geopark bukan sekadar kawasan wisata alam yang menawarkan panorama indah. Lebih dari itu, geopark merupakan kawasan yang mengintegrasikan nilai geologi, budaya, dan keanekaragaman hayati sebagai sarana pendidikan, konservasi, sekaligus pemberdayaan masyarakat.

 

Karena itu, setiap geosite seharusnya mampu menjelaskan kepada wisatawan mengenai sejarah terbentuknya bentang alam, proses geologi yang terjadi selama jutaan tahun, hingga nilai ilmiah yang membuat lokasi tersebut layak menjadi bagian dari geopark.

 

Menurut Mega, aspek inilah yang hingga kini masih belum tergambar secara maksimal di sejumlah geosite di Berau. Salah satu contoh yang disorot ialah Geosite Labuan Cermin. Destinasi yang menjadi ikon wisata Kabupaten Berau itu dikenal luas karena fenomena langka berupa pertemuan air asin dan air tawar dalam satu kawasan. Fenomena tersebut bahkan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

 

Sayangnya, keunikan tersebut belum didukung dengan papan interpretasi maupun media informasi yang memadai untuk menjelaskan bagaimana fenomena itu terbentuk. Akibatnya, banyak wisatawan datang hanya untuk menikmati keindahan alam dan mengabadikan momen, tanpa memperoleh pemahaman mengenai nilai geologi yang menjadi alasan utama kawasan tersebut ditetapkan sebagai geosite.

 

"Edukasi seperti itu perlu ditambahkan. Begitu juga di geosite lainnya yang perlu menjelaskan aspek geologinya," katanya.

 

Ia menilai, keberadaan papan interpretasi, infografis, maupun media digital yang menjelaskan sejarah geologi kawasan akan memberikan pengalaman wisata yang jauh lebih bermakna. Pengunjung tidak hanya membawa pulang foto-foto indah, tetapi juga pengetahuan mengenai warisan bumi yang dimiliki Kabupaten Berau.

 

Lebih lanjut Mega menegaskan, peningkatan aspek edukasi bukan sekadar memenuhi kelengkapan administrasi dalam proses verifikasi. Langkah tersebut merupakan bagian penting dari upaya membangun kesadaran masyarakat dan wisatawan untuk ikut menjaga kelestarian kawasan geosite.

 

Semakin tinggi pemahaman masyarakat terhadap nilai geologi sebuah kawasan, semakin besar pula kepedulian untuk melindunginya dari kerusakan. Meski masih memberikan sejumlah catatan, tim verifikator menilai perkembangan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat secara keseluruhan cukup positif.

 

Keterlibatan masyarakat, dukungan pemerintah daerah, serta pengelolaan destinasi yang terus membaik menjadi modal penting dalam proses menuju Geopark Nasional.

 

Namun demikian, penguatan fungsi edukasi dinilai menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan agar konsep geopark benar-benar berjalan sesuai standar.

 

Menanggapi hasil evaluasi tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau, Yudha Budisantosa, menyatakan pihaknya menerima seluruh masukan yang disampaikan tim verifikator sebagai bahan evaluasi untuk penyempurnaan pengelolaan geosite.

 

Menurutnya, pemerintah daerah menyadari bahwa daya tarik wisata tidak cukup hanya mengandalkan panorama alam. Wisatawan juga perlu memperoleh pengetahuan mengenai nilai geologi yang menjadi kekuatan utama kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.

 

"Masukan ini menjadi evaluasi kami. Informasi edukasi di geosite akan terus diperkuat agar wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga memahami nilai geologinya," ujarnya.

 

Yudha menjelaskan, Disbudpar Berau akan berkolaborasi dengan pengelola geosite, pemerintah kampung, akademisi, hingga para ahli geologi untuk menyusun materi interpretasi yang mudah dipahami seluruh kalangan. Selain memperbanyak papan informasi, pemerintah juga akan mengembangkan berbagai media edukasi yang lebih komunikatif sehingga pengalaman wisata tidak berhenti pada aktivitas rekreasi semata, tetapi juga menjadi sarana belajar mengenai kekayaan geologi Kabupaten Berau.

Dengan penguatan aspek edukasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Berau optimistis kualitas pengelolaan geosite akan semakin meningkat sekaligus memperbesar peluang Geopark Sangkulirang-Mangkalihat memperoleh pengakuan sebagai Geopark Nasional. Hal itu diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi Berau sebagai salah satu destinasi geowisata unggulan di Indonesia sekaligus mendorong pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. (sep/FN)