Tak Sekadar Menjual Keindahan Alam, Berau Bersiap Ubah Wajah Promosi Pariwisata Lewat Storytelling
Kawasan wisata Air Panas Pemapak Jadi Destinasi Percontohan di kIabuopaten Berau. (foto : sep/fn)
POSKOTAKALTIMNEWS,
BERAU : Keindahan alam selama ini menjadi daya
tarik utama destinasi wisata di Kabupaten Berau. Namun, di tengah semakin
ketatnya persaingan industri pariwisata, panorama yang memukau dinilai tidak
lagi cukup untuk menarik perhatian wisatawan. Dibutuhkan sebuah identitas yang
mampu meninggalkan kesan mendalam, membuat pengunjung tidak hanya datang untuk
berfoto, tetapi juga pulang dengan membawa cerita.
Atas dasar itulah,
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau mulai menyiapkan
strategi baru dalam mempromosikan destinasi wisata. Tidak hanya membangun
fasilitas dan mempercantik kawasan wisata, pemerintah kini akan memperkuat
promosi melalui storytelling,
yakni mengangkat sejarah, budaya, legenda, hingga kisah masyarakat lokal yang
selama ini belum banyak diketahui publik.
angkah tersebut
menjadi salah satu tindak lanjut atas masukan dari Utusan Presiden Seychelles
untuk ASEAN sekaligus Founder Indonesian Diaspora Network Global (IDN Global),
Nico Barito, saat melakukan kunjungan ke Kabupaten Berau beberapa waktu lalu.
Dalam kesempatan itu,
Nico menilai Air Panas Pemapak memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi
destinasi wisata unggulan. Namun menurutnya, potensi tersebut akan jauh lebih
bernilai apabila diperkaya dengan narasi yang mampu membangun ikatan emosional antara
destinasi dengan wisatawan.
Bukan hanya
menawarkan kolam air panas alami, Air Panas Pemapak dinilai memiliki peluang
untuk dikenal lebih luas apabila menyuguhkan cerita mengenai asal-usul kawasan
tersebut, sejarah masyarakat yang telah lama memanfaatkannya, hingga berbagai
pengalaman pengunjung yang merasakan manfaat terapi dari sumber air panas alami
itu.
Kepala Disbudpar
Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan konsep tersebut menjadi perspektif baru
dalam pengembangan pariwisata Berau. Menurutnya, tren wisata saat ini telah
bergeser. Wisatawan tidak lagi hanya mencari tempat yang indah, tetapi juga
pengalaman yang memiliki makna dan mampu dikenang dalam waktu lama.
"Beliau
menyarankan agar Air Panas Pemapak dilengkapi dengan storytelling. Jadi ada
cerita tentang sejarahnya, kisah masyarakat sekitar, hingga pengalaman
orang-orang yang pernah menjalani terapi dan merasakan manfaat dari air panas
tersebut. Semua itu bisa menjadi bagian dari promosi wisata," ujarnya.
Yudha menjelaskan,
cerita yang akan dikembangkan bukan sekadar narasi pelengkap, melainkan menjadi
identitas utama sebuah destinasi. Pengunjung nantinya tidak hanya menikmati
keindahan alam, tetapi juga memahami nilai sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat
yang melekat pada kawasan tersebut.
Menurutnya,
pendekatan semacam ini telah diterapkan di banyak destinasi wisata dunia.
Sebuah lokasi akan memiliki daya tarik lebih kuat apabila mampu menghadirkan
pengalaman yang berbeda dibandingkan tempat lain. Cerita rakyat, nilai-nilai
budaya, legenda setempat, hingga kisah nyata masyarakat dapat menjadi kekuatan
promosi yang tidak dapat ditiru oleh daerah lain.
"Ketika
wisatawan datang, mereka tidak hanya melihat pemandangan. Mereka juga membawa
pulang pengalaman dan cerita. Justru cerita itulah yang nantinya akan mereka
bagikan kepada keluarga, teman, maupun melalui media sosial. Dampaknya tentu
akan sangat baik bagi promosi pariwisata," katanya.
Ia menambahkan,
konsep storytelling tidak akan berhenti di Air Panas Pemapak. Disbudpar Berau
mulai menyusun langkah untuk menginventarisasi sejarah, legenda, dan asal-usul
berbagai destinasi wisata lainnya agar memiliki karakter yang kuat sebagai
identitas daerah.
Salah satu destinasi
yang dinilai memiliki potensi besar adalah Pulau Kakaban. Selama ini pulau
tersebut lebih dikenal karena keberadaan ubur-ubur tidak menyengat yang menjadi
daya tarik wisatawan mancanegara. Padahal, di balik keunikan itu tersimpan sejarah
panjang mengenai proses terbentuknya pulau hingga berbagai cerita yang belum
banyak dipublikasikan.
Tidak hanya Pulau
Kakaban, sejumlah objek wisata lain di Kabupaten Berau juga akan didorong
memiliki narasi yang kuat sehingga promosi yang dilakukan tidak lagi hanya
mengandalkan foto-foto keindahan alam, tetapi juga mengangkat kekayaan budaya
dan sejarah yang dimiliki daerah.
"Kita sebenarnya
memiliki banyak cerita yang belum diangkat, misalnya asal-usul Pulau Kakaban
dan sejarah terbentuknya. Ke depan kami akan bekerja sama dengan pihak yang
berkompeten untuk menggali, mendokumentasikan, dan menyusun cerita-cerita tersebut
sehingga menjadi identitas yang memperkuat promosi pariwisata Berau,"
pungkasnya. (sep/FN)