Teluk Perancis, Obyek Wisata Menarik di Kutim

img

SANGATTA – Ketua  Gerakan Anti  Narkotika ( Granat) Kabupaten Kutai Timur, Herlanh Mappatiti mengatakan, bahwa   Tidak dapat dipungkiri jika Kabupaten Kutai Timur ini  memiliki kelengkapan tunai sebagai daerah yang diberkahi banyak destinasi wisata alam, baik di daerah pedalaman maupun juga pesisirnya. Belum lagi soal adat istiadat asli daerah dan ditambah dengan beragam suku, agama, dan ras dari berbagai wilayah nusantara yang masuk ke Kutim makin membuat daerah ini amat  hetrogen.

Kelebihan yang dimiliki Kutim tidak saja hanya soal artistik wilayah pedalaman dengan hutan dan sungai, namun menyatu pula dengan wilayah pesisir dengan ombak dan lautnya. Bahkan daerah ini mempunyai dasar kuat sebagai pemilik destinasi wisata alam berupa Taman Nasional Kutai hingga Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang terkenal hingga ke luar negeri.

Tapi kali ini kita tidak berbicara soal destinasi wisata alam mainstream tersebut, namun mencoba mengungkap wisata alam berupa pantai. Tentu bukan pantai Kenyamukan dan pantai Teluk Lombok, dua kawasan yang menjadi wilayah wajib bagi sebagian besar warga Sangatta untuk menikmati akhir pekan. Namun yang kita bicarakan kali ini adalah Teluk Perancis,  mengapa disebut dalam judul sebagai surga tersembunyi dan anti mainstream. Karena masih dapat dikatakan alami, suasananya asri dan tidak kumuh, serta belum banyak diketahui masyarakat di Kalimantan Timur.

Potensi besar Teluk Perancis sebagai sebuah kawasan wisata alam memang wajib untuk diperkenalkan pada seluruh masyarakat, karena ini adalah surga tersembunyi (sulit ditempuh jika tidak menggunakan mobil double gardan atau motor trail, red) yang harus dikelola dengan baik tanpa membuang esensi alaminya.

Herlang Mappatiti yang selama ini fokus dalam melakukan pengembangan dan memajukan kawasan Teluk Perancis mengakui, wilayah yang berada di Sangkima ini dapat dipacu menjadi kawasan wisata premium. Dengan maksud selain menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), juga benar-benar dijaga keaslian kawasan tersebut walau menjadi tempat wisata."Harapannya agar ada destinasi wisata alam yang terjaga kondisinya, sehingga tidak menjadi kotor seperti di Kenyamukan dan Teluk Lombok. Harus ada perbedaan, agar pengembangannya benar-benar terpola dengan baik, terlebih sudah ada beberapa fasilitas pendukung seperti villa, gazebo, serta fasilitas lainnya yang akan menambah minat wisatawan dari Kutim, Kaltim, maupun juga daerah-daerah lain untuk berkunjung kesana," jelasnya.

Diterangkan lebih jauh oleh mantan anggota DPRD Kutim ini, dalam pengamatannya dari kunjungan-kunjungan wisatawan asing ke Kutim. Tujuan mereka paling banyak ke Prevab Mentoko di Taman Nasional Kutai, karena masuk dalam agenda perjalanan wisata yang ditawarkan oleh tour guide di Kaltim. Atas dasar itulah mengapa dirinya yakin jika Teluk Perancis mampu disinkronkan dalam satu kaitan langsung dengan agenda perjalanan wisata alam yang digarap oleh pihak Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) maupun pihak Pemerintah Kabupaten lewat Dinas Pariwisata.nd/poskotakaltimnews.com