Salinitas Air Baku Tembus 1.700 Ppm, Perumda Batiwakkal Sempat Batasi Operasional Intake Gurimbang dan Kini Kembali Normal 24 Jam

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Kemarau berkepanjangan mulai memberi tekanan terhadap ketersediaan air baku di Kawasan Gurimbang Kabupaten Berau. Air laut bahkan merangsek masuk lebih jauh ke aliran sungai hingga mencapai titik intake Perumda Air Minum Batiwakkal.  

 

Dampaknya, kadar salinitas air baku sempat melonjak drastis hingga 1.700 ppm. Kondisi ini membuat Perumda Batiwakkal harus mengambil langkah cepat dengan membatasi operasional intake Gurimbang demi menjaga kualitas air yang diproduksi untuk masyarakat.

 

Direktur Utama Perumda Air Minum Batiwakkal, Saipul Rahman, mengatakan tingginya salinitas tidak terlepas dari kondisi kemarau yang membuat debit air sungai menurun. Ketika debit sungai melemah, pengaruh air laut menjadi semakin kuat dan memungkinkan air asin bergerak lebih jauh ke arah hulu.

 

“Intrusi air laut ini paling parah sempat menyentuh angka 1.700 ppm. Sesuai Permenkes Nomor 2 Tahun 2023, ambang batas maksimal adalah 300 ppm. Jika melebihi angka tersebut, operasional pengolahan terpaksa kami hentikan demi menjaga kualitas air,” ujar Saipul.

 

Angka tersebut menjadi perhatian serius karena jauh melampaui ambang batas yang menjadi acuan. Perumda Batiwakkal pun tidak mengambil risiko dengan tetap menjalankan pengolahan secara normal ketika kualitas air baku belum memenuhi kondisi yang dipersyaratkan.

 

Sejak 24 Agustus, operasional intake Gurimbang yang sebelumnya berjalan selama 24 jam harus disesuaikan menjadi 12 jam. Namun, pembatasan operasional bukan berarti pasokan air bersih kepada masyarakat ikut terhenti. Perumda Batiwakkal segera mengatur strategi distribusi dengan mengoptimalkan interkoneksi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dari wilayah Sambaliung.

 

Langkah tersebut dilakukan melalui mekanisme buka-tutup katup agar pasokan dari sistem yang berbeda dapat saling menopang. Dengan cara itu, kekurangan pasokan dari Gurimbang selama intake beroperasi terbatas dapat ditutupi dari sistem Sambaliung.

“Kami melakukan interkoneksi sistem melalui mekanisme buka-tutup katup agar pasokan air dapat saling mengisi dan menutupi kekurangan distribusi dari Gurimbang. Strategi tersebut menjadi salah satu kunci agar kebutuhan air bersih masyarakat Gurimbang tetap terkendali di tengah kondisi kemarau ,” jelas Saipul. (sep/FN)