100 Penari Hidupkan Kembali Kisah Baddit Dipattung, Raja Pertama Kerajaan Berau di Puncak Hari Jadi Kabupaten Berau dan Tanjung Redeb
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Ratusan pasang mata tertuju ke tengah Lapangan Pemuda Tanjung Redeb. Diiringi musik tradisional dan balutan kostum bernuansa budaya Berau, sebanyak 100 penari tampil membawakan kisah Baddit Dipattung, sosok yang dikenal sebagai raja pertama Kerajaan Berau.
Pementasan tarian
kolosal tersebut menjadi salah satu sajian yang mencuri perhatian dalam puncak
peringatan Hari Jadi ke-73 Kabupaten Berau dan ke-216 Kota Tanjung Redeb,
Selasa (15/9/2026).
Bukan hanya sekadar
pertunjukan untuk memeriahkan perayaan hari jadi, tarian kolosal itu membawa
penonton kembali mengenal salah satu bagian penting dari perjalanan sejarah
Berau.
Melalui gerakan tari
yang dinamis, iringan musik tradisional, serta rangkaian cerita yang disusun
secara kolosal, perjalanan Baddit Dipattung ditampilkan dalam sebuah
pertunjukan yang sarat dengan nuansa budaya lokal.
Sejumlah adegan dalam
pementasan menggambarkan perjalanan sejarah dan sosok kepemimpinan Baddit
Dipattung. Setiap gerakan para penari menjadi bagian dari rangkaian cerita yang
membawa penonton untuk mengenang kembali jejak awal Kerajaan Berau.
Kehadiran 100 penari
juga membuat pertunjukan tersebut terlihat semakin megah. Perpaduan gerakan
yang dilakukan secara serempak dengan musik pengiring menciptakan suasana
berbeda di tengah rangkaian upacara peringatan hari jadi.
Antusiasme masyarakat
pun terlihat sepanjang pertunjukan. Sejumlah warga dan tamu undangan tampak
menyaksikan dengan seksama. Tak sedikit pula yang mengeluarkan telepon genggam
untuk mengabadikan momen ketika para penari menampilkan setiap bagian dari
kisah Baddit Dipattung.
Bagi masyarakat yang
menyaksikan, pementasan tersebut bukan hanya menjadi hiburan. Cerita sejarah
yang disampaikan melalui seni pertunjukan membuat kisah tentang masa lalu Berau
terasa lebih dekat dan mudah dinikmati.
Salah seorang warga,
Anto, mengaku terkesan dengan penampilan tarian kolosal tersebut. Menurutnya,
pertunjukan yang disajikan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga
memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai sejarah Berau, khususnya
tentang Baddit Dipattung.
“Bagus penampilannya.
Menarik untuk ditonton, kita jadi mengenal sejarah Baddit Dipattung sebagai
raja pertama Berau. Semoga kegiatan seperti ini terus ditampilkan setiap
peringatan hari jadi buat hiburan masyarakat juga,” ujarnya.
Pementasan Baddit
Dipattung menunjukkan bahwa sejarah daerah tidak selalu harus diperkenalkan
melalui buku, ruang kelas, maupun narasi formal.
Melalui seni
pertunjukan, cerita masa lalu dapat dikemas menjadi sesuatu yang lebih dekat
dengan masyarakat. Gerakan tari, musik tradisional, kostum, dan alur cerita
menjadi satu kesatuan yang membuat sejarah dapat dinikmati sekaligus
dipelajari.
Cara tersebut juga
menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal kembali tokoh dan perjalanan
sejarah daerahnya. Di tengah perkembangan zaman dan semakin kuatnya pengaruh
budaya modern, pengenalan sejarah melalui kesenian lokal menjadi salah satu
cara untuk menjaga agar identitas budaya daerah tetap dikenal.
Baddit Dipattung
bukan hanya ditampilkan sebagai sosok dari masa lalu. Kisahnya dihadirkan
kembali dalam ruang publik, disaksikan masyarakat dari berbagai kalangan, dan
diperkenalkan kepada generasi yang mungkin sebelumnya hanya mengenal namanya
dari cerita sejarah.
Perayaan hari jadi
tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang perjalanan sebuah daerah dari
waktu ke waktu, tetapi juga menjadi kesempatan untuk kembali melihat akar
sejarah dan kebudayaan yang membentuk identitas masyarakat Berau.
Lewat pementasan itu,
nilai-nilai kepemimpinan, perjuangan, serta warisan para pendahulu
diperkenalkan kembali dalam bentuk yang lebih kreatif. Pesan tentang pentingnya
menjaga sejarah dan budaya pun tersampaikan tanpa harus kehilangan unsur
hiburan. (sep/FN)