Final Sepak Bola U-14 di Sebulu Ricuh, Panitia dan Suporter Terlibat Bentrok

img

Final sepak bola U-14 di Desa Segihan, Kecamatan Sebulu, Kukar yang diwarnai kericuhan antara panitia dan suporter. (Tangkapan layar)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Suasana final sepak bola kelompok usia U-14 di Desa Segihan, Kecamatan Sebulu, Kutai Kartanegara (Kukar), Minggu (20/9/2026), berubah tegang menjelang laga berakhir.

 

Pertandingan antara SSB Tunas Muda Loa Kulu kontra Persimuda Puan Cepak tersebut diwarnai bentrokan antara panitia penyelenggara dengan sejumlah suporter.

 

Kericuhan pecah ketika pertandingan memasuki penghujung babak kedua. Persoalan bermula dari insiden di tengah pertandingan yang melibatkan pemain kedua kesebelasan.

 

Camat Sebulu, Fahruddin mengatakan, ketegangan awal muncul setelah seorang pemain diduga tersenggol.

 

Perselisihan sempat terjadi di dalam lapangan, namun kondisi tersebut berhasil ditenangkan.

 

Saat itu, skor pertandingan telah berada di angka 5-2.

 

“Itu kan biasa dalam permainan, mungkin tersenggol. Cuma ada yang marah. Tapi sudah dilerai,” ujarnya saat di hubungi pada Senin (21/9/2026).

 

Persoalan tidak berhenti setelah pemain kembali ditenangkan, beberapa penonton justru terlihat masuk ke area permainan ketika pertandingan masih berjalan. Situasi tersebut membuat kondisi di lapangan semakin sulit dikendalikan.

 

Masuknya penonton ke dalam lapangan kemudian memicu reaksi dari pihak panitia.

 

Ketegangan antara kedua pihak berkembang menjadi perkelahian sebelum akhirnya sejumlah orang di lokasi berupaya menghentikannya.

 

“Penonton itu langsung masuk ke lapangan, itu yang bikin kacau. Tapi alhamdulillah sudah diredam,” kata dia.

 

Di tengah kericuhan tersebut, ia memastikan tidak ada pemain yang mengalami pemukulan.

 

Ia juga menyebut perselisihan yang sebelumnya terjadi di antara pemain telah diselesaikan sehingga anak-anak yang mengikuti pertandingan tetap dalam kondisi aman.

 

“Anak-anaknya nda apa-apa. Tidak ada yang dipukul,” ucapnya.

 

Baginya, kejadian tersebut menjadi catatan yang perlu diperhatikan karena pertandingan yang melibatkan pemain usia dini semestinya berlangsung dalam suasana yang mendukung perkembangan mereka.

 

Ia menilai keberadaan kompetisi dibutuhkan anak-anak untuk mendapatkan pengalaman bertanding sekaligus mengembangkan kemampuan mereka di bidang olahraga.

 

“Kita ini untuk pembinaan. Anak-anak kita bukan untuk seperti ini. Mereka perlu ruang untuk kompetisi,” tuturnya.

 

Karena itu, ia meminta penyelenggara pertandingan memperketat pengawasan di sekitar lapangan.

 

Peran panitia dan petugas keamanan dinilai penting untuk memastikan penonton tetap berada di area yang telah ditentukan selama pertandingan berlangsung.

 

“Kami mengharapkan jangan ada lagi hal-hal seperti ini. Panitia maupun keamanan harus menjaga hal-hal seperti ini,” ujarnya.

 

Ia juga menyampaikan permintaan maaf atas kejadian yang mencoreng jalannya pertandingan tersebut.

 

Ia berharap persoalan yang terjadi dapat diselesaikan dan tidak berkembang menjadi persoalan baru.

 

“Saya mohon maaf atas kejadian ini. Artinya, kita tidak menginginkan hal ini. Mudah-mudahan ini tidak terulang lagi. Ini hanya kesalahpahaman,” pungkasnya. (Kriz)