Desa Sumber Sari Raih Penghargaan Desa Cantik Terbaik Nasional 2026, Unggulkan Empat Inovasi Berbasis Data

img

Kepala Desa Sumber Sari, Sutarno saat menerima penghargaan Desa Cantik Terbaik Nasional 2026 di Jakarta. (Doc. Pemdes Sumber Sari)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), berhasil meraih penghargaan Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) Terbaik Nasional 2026 dengan mengembangkan empat inovasi berbasis data, yakni Si Data, Si Mitra, Si Kerja dan Si Bagi.

 

Penghargaan tersebut diraih setelah Desa Sumber Sari menjadi wakil Kalimantan Timur dalam penilaian Desa Cantik tingkat nasional.

 

Penghargaan tersebut diterima Desa Sumber Sari di Jakarta pada Sabtu (26/9/2026), sekaligus membawa nama Kukar dan Kalimantan Timur ke tingkat nasional.

 

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar, Arianto mengatakan, capaian tersebut menjadi hasil dari proses pendampingan yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) Kukar terhadap pemerintah Desa Sumber Sari.

 

Menurutnya, pendampingan tersebut membuat pengelolaan data di tingkat desa dilakukan dengan metode yang lebih terarah, sehingga data yang dihasilkan tidak berhenti sebagai dokumen administrasi.

 

“Tadi saya diinfokan Pak Kades bahwa mereka masuk terbaik nasional untuk program Desa Cantik yang dilakukan penilaiannya oleh BPS secara nasional,” ujarnya saat ditemui di Tenggarong pada Minggu (27/9/2026).

 

Ia menyebut Sumber Sari dipilih untuk mewakili Kalimantan Timur setelah melalui proses penilaian di tingkat daerah.

 

Capaian tersebut juga melanjutkan prestasi desa asal Kukar pada program Desa Cantik, setelah Desa Batuah sebelumnya berhasil masuk enam besar nasional.

 

Ia menjelaskan, salah satu aspek penting dalam Desa Cantik adalah kemampuan desa membangun basis data yang dapat digunakan untuk melihat kondisi wilayah dan masyarakat secara lebih terukur.

 

“Data itu semuanya nanti berbasis elektronik. Mau data potensi, data penduduknya, kemudian sudah menggunakan geospasial,” ucapnya.

 

Dengan basis data tersebut, pemerintah desa dapat memiliki informasi yang lebih lengkap ketika menyusun program.

 

Data kependudukan, potensi wilayah dan kondisi sosial masyarakat dapat menjadi bagian dari bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan.

 

Ia berharap pola yang diterapkan Sumber Sari dapat dikembangkan oleh desa lainnya di Kukar.

 

Menurutnya, keberhasilan tersebut bukan hanya untuk kepentingan satu desa, tetapi dapat menjadi contoh dalam membangun tata kelola data di tingkat desa.

 

“Harapannya semua desa bisa menggunakan metode Desa Cantik ini untuk membuat data di desanya masing-masing,” harapnya.

 

Sementara itu, Kepala Desa Sumber Sari, Sutarno mengatakan, proses mengikuti Desa Cantik berlangsung cukup panjang.

 

Pemerintah desa harus memastikan data yang dikumpulkan dapat dipertanggungjawabkan dan memberikan gambaran mengenai kondisi masyarakat.

 

Proses tersebut juga melibatkan berbagai pihak, termasuk mahasiswa yang sedang menjalani KKN di wilayah Sumber Sari.

 

Keterlibatan mereka membantu desa dalam menyelesaikan sejumlah pekerjaan pengumpulan maupun pengolahan data.

 

“Proses Desa Cantik itu lama, ya. Hampir lima bulan kita dilakukan pembinaan. Artinya desa ini dibina bagaimana data itu bisa bagus, bisa berkualitas, mulai dari cara pengumpulan data, kemudian pengolahan, dan juga penyajian data,” ungkapnya.

 

Dari proses tersebut, Desa Sumber Sari kemudian mengembangkan empat inovasi yang tidak hanya berfungsi untuk mengelola data, tetapi juga menghubungkan data dengan kebutuhan masyarakat.

 

Inovasi pertama adalah Si Data, yang menjadi dasar dalam memastikan informasi mengenai masyarakat tersusun secara lebih akurat.

 

Salah satu fokusnya berkaitan dengan pemetaan kondisi sosial ekonomi masyarakat berdasarkan kelompok desil.

 

Data tersebut kemudian menjadi dasar bagi desa dalam melihat warga yang membutuhkan perhatian lebih, termasuk masyarakat yang belum mendapatkan program bantuan meskipun berada dalam kondisi ekonomi rendah.

 

Inovasi kedua adalah Si Mitra, yang diarahkan untuk menghubungkan potensi masyarakat dengan pihak yang membutuhkan.

 

Salah satu penerapannya dilakukan melalui komunikasi dengan SPPG, khususnya dalam memanfaatkan hasil pertanian masyarakat.

 

“Karena warga kita banyak petani, bagaimana sebagian hasil pertanian itu disalurkan ke SPPG, seperti beras dan sayuran. Kita berkomunikasi dengan SPPG yang ada, sehingga petani kita itu bisa menjual barangnya ke SPPG,” jelasnya.

 

Selanjutnya terdapat Si Kerja, yang digunakan untuk mempertemukan masyarakat dengan peluang pekerjaan.

 

Konsep tersebut tidak hanya menyasar lapangan pekerjaan formal, tetapi juga pekerjaan yang berkembang di lingkungan masyarakat.

 

Menurutnya, informasi mengenai kebutuhan tenaga kerja dapat dipertemukan dengan warga yang sedang mencari pekerjaan melalui basis data yang dimiliki desa.

 

“Peluang kerja itu enggak harus di perusahaan saja. Bisa juga kerja-kerja nonformal, seperti pertukangan dan pertanian. Siapa yang memerlukan tenaga, karena itu juga bisa diakses lewat ini,” ujarnya.

 

Sedangkan inovasi keempat, Si Bagi, diarahkan untuk membangun kepedulian antarmasyarakat.

 

Program tersebut mempertemukan warga yang memiliki kemampuan atau kondisi ekonomi lebih baik dengan masyarakat yang membutuhkan bantuan.

 

Ia menilai empat inovasi tersebut menjadi salah satu bagian yang membedakan pendekatan Desa Sumber Sari dalam memanfaatkan data dibandingkan sekadar menjadikan data sebagai dokumen administrasi.

 

“Orang-orang yang punya kemampuan itu membantu orang-orang yang berada di desil satu melalui program Si Bagi. Satunya yang lebih mampu membantu orang yang lebih membutuhkan,” kata dia.

 

Selain empat inovasi tersebut, Desa Sumber Sari juga menyediakan data dan informasi melalui laman sumbersari.klandesa.com.

 

Keberadaan laman tersebut menjadi salah satu sarana bagi masyarakat untuk mengakses informasi yang berkaitan dengan desa.

 

Ia mengatakan pencapaian di tingkat nasional juga tidak lepas dari kerja para agen statistik desa.

 

Mereka harus meluangkan waktu untuk mengumpulkan hingga mengolah data secara berkelanjutan.

 

“Ketelatenan kita, ketekunan, kerja keras dari agen statistiknya sendiri sebenarnya. Karena perlu waktu panjang untuk memproses ini, enggak cukup sehari dua hari,” tuturnya.

 

Proses tersebut, lanjutnya, juga menjadi tantangan tersendiri karena pekerjaan pengumpulan dan pengolahan data dilakukan dengan keterbatasan anggaran.

 

“Kadang lembur, malam, hari libur pun kadang tidak libur. Dan itu enggak dibayar, kita tidak punya anggaran. Betul-betul kerja sukarela, gotong royong,” ungkapnya.

 

Menurutnya, keberadaan data yang selalu diperbarui penting untuk menghindari kondisi ketika profil desa hanya menjadi dokumen administratif yang tidak mencerminkan perkembangan masyarakat.

 

Ia berharap desa-desa lain di Kukar mulai melakukan pembaruan data secara rutin dan memanfaatkannya dalam menentukan program pembangunan.

 

“Sekarang ini teknologi informasi berkembang terus, harus update terus. Harapan kami untuk desa-desa lain itu bisa mengikuti,” kata dia.

 

Ia menyebut, pemerintah Desa Sumber Sari terbuka untuk berbagi pengalaman dengan desa lain yang ingin memperbaiki pengelolaan data.

 

Dalam penerapannya, desa tetap membutuhkan pendampingan dari pihak yang memiliki keahlian di bidang statistik.

“Data ini harus direplikasi ke seluruh desa yang ada di Kukar. Kami dari desa semua siap membantu bagi teman-teman yang mungkin akan memperbaiki data. Dan tentu saja nanti kita tetap melibatkan stakeholder seperti BPS, karena mereka yang ahlinya,” pungkasnya. (Adv/Kriz)