Fuad: Pemprov Sikapi Perkembangan Nasional
(Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan
UMKM Provinsi Kaltim Fuad Assadin)
SAMARINDA- Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi
dan UMKM Provinsi Kaltim Fuad Assadin menjelaskan, pada
saat ini perkembangan virus Conrona, terhadap kinerja export Kaltim belum ada
keluhan, karena memang tidak ada komoditi, atau produk Kaltim yang sensitif
terhadap kasus tersebut.
Menurutnya, beberapa komoditi utama expor Kaltim, yaitu
mineral dan batubara 91,19 persen, sedangkan 9,81 persen lainnya disumbang
oleh, CPO 4,53 persen, pupuk 1,40 persen, bahan kimia anorganik 1,29 persen,
kayu 0,59 persen, dan produk/komoditi lainnya hanya 1 persen.
" Perlambatan lebih disebabkan oleh perkembangan ekonomi
global, dan ekonomi negara tujuan expor," kata Fuad Assadin melalui Pesan
WA, Selasa (17/3/2020).
Ditambahkan, negara tujuan export utama Kaltim menguasai
pangsa 73,14 persen, masing-masing Tiongkok 23,01 persen, India 21,06 persen,
Jepang 15,94 persen, Malaysia 7,03 persen, dan Taiwan 6,10 persen.
Dikatakan, sesuai dengan Raker Perdagangan 3 – 6 Maret 2020
yang lalu, di Hotel Borobudur Jakarta, Pemprov Kaltim akan melakukan
langkah-langkah jangka pendek, untuk menindak lanjuti kebijakan nasional
diantaranya, menyikapi perkembangan global dan nasional Pemerintah tetap fokus
bekerja, menjaga optimisme, memanfaatkan peluang, dan mencari jalan keluar dari
setiap kendala yang dihadapi.
"Pemerintah akan mempertimbangkan relaksasi bagi
kebijakan impor bahan baku untuk kebutuhan industri. Pasalnya, penyebaran wabah
virus korona secara nasional mungkin secara langsung maupun tidak langsung
berimplikasi di Kaltim seperti operasional banyak perusahaan menjadi terganggu
karena kekurangan bahan baku, baik itu yang didatangkan dari luar maupun yang
diproduksi di dalam negeri," paparnya.
Kemudian relaksasi, dimaksudkan adalah bagaimana
melonggarkan, mempercepat proses prosedur-prosedur yang sebelumnya sangat lama
dan berbelit. Ini juga menjadi perhatian dalam upaya percepatan pelayanan
perizinan.
Selain itu, lanjutnya untuk meminimalkan dampak ekonomi
dari penyebaran wabah corona bagi sektor industri, pemerintah juga
bermaksud menjaga agar barang-barang kebutuhan konsumsi masyarakat tetap
tersedia dengan harga yang stabil menjelang bulan Ramadan 2020.
" Seperti kebutuhan bawang putih, daging, dan gula, akan
dihitung kembali berapa ketersediaan dan kebutuhannya. Prinsip pemerintah
menghindari timbulnya kekhawatiran masyarakat. Sudah khawatir karena Corona,
khawatir lagi karena suplai barang tidak ada, ini yang ingin kita
dihindari," kata Fuad Assadin.(mar)