Mengelola Sampah TPA Manggar jadi Gas Metan

img


POSKOTAKALTIMNEWS.COM, BALIKPAPAN- Bau sampah yang menyengat, suara mesin excavator meraung raung,  truk berlalu-lalang saat memasuki Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Manggar di kecamatan Balikpapan Timur.

Banyak orang menganggap sampah adalah barang yang tak bernilai karena dapat menimbulkan bau tidak sedap, anggapan tersebut tidak untuk warga di wilayah sekitar Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Manggar Balikpapan Timur, justru sebaliknya ketika sampah di kelola dengan baik dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar TPA manggar seperti yang di lakukan UPTD TPA Manggar, Balikpapan Timur bersama Pertamina Hulu Mahakam (PHM), yakni mengelola tumpukan sampah menjadi gas methane.

Program tersebut di beri nama was to energy for community, kampung di sekitar TPA Manggar juga di sebut Kampung Energi Wasteco Manggar diberdayakan oleh TPA Manggar melalui pengelolaan dan pemanfaatan sampah menjadi energi terbarukan berjenis gas methane yang didapatkan melalui komposisi sampah organik.

Kampung Energi Wasteco diresmikan oleh Wali Kota Balikpapan H. Rahmad Mas'ud pada September 2021 lalu.

Head Communications Relation and CID PHM Frans Alexander A Hukom mengatakan, dari tumpukan sampah yang ada di TPA Manggar dapat menghasilkan gas methane. Maka dari itu UPT TPA Manggar  bekerjasama dengan Pertamina Hulu Mahakam ( PHM ) merumuskan agar sampah yang ada di TPA manggar dapat menjadi gas methane.

Alhamdulillah melalui proses dan panduan yang benar gas methane dapat mengalir ke rumah rumah warga sekitar TPA Manggar dan target kami di tahun 2022 ini ada 300 sambungan ke rumah di sekitar TPA Manggar ini dan saat ini sudah mencapai 277 sambungan rumah,” kata Frans Alexander di TPA Manggar, Jumat (22/7/2022) lalu.

Sementara Kepala UPTD TPA Manggar, Haryanto menambahkan, dengan keberadaan TPA Manggar dan Kampung Energi Wasteco  di sekitar wilayah TPA Manggar, alhamdulillah dapat memberikan manfaat bagi warga sekitar, dan untuk pemanfaatan gas methane ini kami berharap dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dengan membentuk UMKM yang menguntungkan masyarakat itu sendiri," tambahnya.

Sebelumnya memang ada wacana lain untuk mengembangkan program pemanfaatan gas metana ini untuk bisa dikemas menjadi tabung gas seperti tabung gas elpiji 3 Kg dan dapat didistribusikan secara luas menjadi tabung gas bersubsidi, sehingga masyarakat kurang mampu dapat merasakan manfaat dari sampah yang dikelola TPA Manggar ini. Tetapi terkait hal ini kami masih koordinasikan dengan pihak PHM terlebih dahulu, karena secara teknis pihak PHM lebih mengerti.

Inovasi dan keinginan untuk menggelola gas methane  dari tumpukan sampah ini sudah sejak lama, tetapi di tahun 2018 baru terealisasi karena gas yang ada di tumpukan sampah sudah mencukupi semakin banyak sampah yang menumpuk semakin banyak pula gas yang di hasilkan.

Pihak Pengelola Gas Methane (PGM ) di bawah binaan PT Pertamina Hulu Mahakam Suyano, bahwa dengan adanya pemanfaatan gas metana ini, juga dapat mempekerjakan empat orang teknisi yang mendapatkan penghasilan tiap bulannya dari biaya yang dikumpulkan warga tiap bulan tersebut.

Tujuan utama kami belum sepenuhnya tercapai, dari program CSR ini ditunjukkan dengan memanfaat sampah yang kami kumpulkan. Kami kelola, kami manfaatkan untuk dapat kami kembalikan ke masyarakat dalam bentuk energi terbarukan," tambahnya.

Alhamdulillah, masyarakat juga tidak merasa terganggu dengan keberadaan TPA Manggar di tengah masyarakat, kemungkinan juga melihat manfaat yang kami berikan melalui gas methane ini.

Dengan tersalurnya gas methane ke masyarakat kami melakukan penarikan iuran sebesar Rp 10 ribu yang dilakukan pengelola, guna melancarkan program pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara berkala oleh teknisi yang ada.

Dengan adanya iuran Rp 10 ribu tersebut. Alhamdulillah, tidak ada yang keberatan ,total pengeluaran bulanan untuk pemeliharaan pipa maupun perbaikan jaringan sekitar Rp 1,5 juta,” ungkapnya.

Inovasi gas metana ini sangat membantu masyarakat sekitar dalam mengurangi beban pembelian tabung elpiji. Bahkan, masyarakat sekitar

yang memanfaatkan inovasi tersebut banyak yang tak lagi menjadikan elpiji sebagai kebutuhan utama dalam aktivitas memasak,” pungkasnya. ( mid ).