Rumah Masa Depan: Listrik Tenaga Surya
Prof.Ir. Rinaldy Dalimi MSc.PhD
KEKAYAAN sumber daya energi (SDE) terbarukan yang dimiliki Indonesia, merupakan salah satu kekuatan besar yang besar, sehingga kekuatan SDE terutama sinar matahari bisa menjadi tenaga listrik di masa depan.
" Kekuatan ini hendaknya bisa jadi modal utama Indonesia dalam memenuhi kebutuhan listrik atau pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di masa depan," kata Prof Ir Rinaldy Dalimi MSc PhD, saat memberikan kuliah umum di depan mahasiswa Universitas Mulawarman Samarinda, dalam Kuliah Umum dan Seminar Ketahanan Energi dan Ketahanan Pangan di Ruang Rapat Terbuka Rektorat Unmul, Rabu (23/11) kemarin.
Ditambahkan Rinaldy, sasaran pembangunan jangka panjang Indonesia, adalah memanfaatkan tenaga terbarukan yang dimiliki Indonesia, seperti sinar matahari, akan menjadi salah satu alternatif pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang luar biasa besarnya.
"Kemampuan PLTS itu niscaya akan menjadi pembangkit listrik di masa depan. Bisa dipastikan setiap bangunan yang ada akan menggunakan tenaga surya sebagai alat penerang dan energi," tegas Rinaldy yang juga dosen Fakultas Tehnik Universitas Indonesia itu.
Ditambahkan Rinaldy, untuk memenuhi kebutuhan energi listrik tenaga surya itu, maka di tahun 2045, Indonesia akan memproduksi listrik dan jaringanna secara mandiri.
"Karena itu perlu ada pabrik panel surya di Indonesia dan kebutuhan akan hal itu harus ada segera," tegas Rinaldy.
Mengenai PLTN ( Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir), menurut Rinaldy masih perlu dipikirkan secara mendalam, karena penggunaan energi listrik berbasiskan nuklir sangat riskan dan resikonya sangat tinggi, meskipun untuk kedepan jaringan listrik berkembang dan besar, kebutuhan akan hal itu bisa jadi salah satu alternatif.
Karena Indonesia kaya dengan sumber daya terbarukan. Potensi sumber daya terbarukan di Kalimantan seperti sinar matahari, bio energi dan hydro (air) sangat melimpah dan cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan energi listrik di Kalimantan, bahkan bisa dikirim ke Jawa.
"Apalagi kalau tetap dipaksakan menggunakan PLTN, yang jelas-jelas membutuhkan biaya besar dan sangat mahal, membuat pemerintah akan menyediakan subsidi yang luar biasa besarnya," ungkapnya.
Di samping itu juga, lanjut Rinaldy, tehnologi nuklir belum bisa kita kuasai dan membangun PLTN akan menciptakan ketergantungan pada tehnologi asing selamanya.
"Yang tak kalah penting, resiko keselamatan dan keamanan sangat tinggi dan potensi resiko yang demikian tinggi itu tidaklah mudah diatasi.
"Buat Indonesia lebih baik menggunakan energi terbarukan, dibandingkan menggunakan energi nuklir," tegas Rinaldy.
Kuliah umum dan Seminar Ketahanan Energi dan Ketahanan Pangan itu dilaksanakan KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Pusat bekerja sama denga Pemprov Kaltim dan Universitas Mulawarman berlangsung dari pagi hingga sore hari. (hsn)