Sumber Energi Indonesia Mencukupi
Herman Darnel Ibrahim, Dosen Pasca Sarjana Fakultas Tehnik UI
INDONESIA memiliki sumber energi yang sangat beragam dan boleh dikatakan sangat besar. Hampir seluruh jenis sumber energi terdapat di Indonesia, seperti minyak, gas alam dan batubara, begitu pula sumber energi yang terbarukan, yaitu geothermal, tenaga air, biomassa, matahari, angin dan energi laut.
Karena itu kekayaan yang demikian besar dan beragam itu perlu dimanfaatkan untuk sumber energi di masa datang.
Demikian diungkapkan DR.Ir Herman Darnel Ibrahim, MSc, Dosen Pasca Sarjana Fakultas Tehnik Universitas Indonesia, saat kuliah umum dan seminar Ketahanan Energi dan Ketahanan Pangan di depan mahasiswa Universitas Mulawarman Samarinda Rabu (23/11) lalu.
Dari kekayaan sumber energi yang ada itu, potensi sumber daya terbarukan mampu memenuhi kebutuhan energi hingga 60 persen dari kebutuhan proyeksi konsumsi tahub 2050 mendatang.
"Saat ini penggunaan dan pemakaian sumber energi masih menggunakan energi fosil yaitu energi minyak bumi, batubara, gas alam, gas metan batubara dan nuklir. Sedangkan energi terbarukan belum begitu dimanfaatkan. Pola pikir yang demikian itu harus diubah," kata Herman yang juga mantan anggota DEN ( Dewan Energi Nasional).
Diharapkan Herman untuk tahun-tahun mendatang, penggunaan sumber energi akan beralih dari energi fosil ke energi terbarukan seperti Biomasa, geotermal, tenaga air, energi laut, biomasa sampah dan energi angin.
"Perlu diketahui, energi fosil sebagai energi utama saat ini, akan berkurang dan habis. Apalagi dikaitkan dengan adanya konflik Rusia-Ukrania, yang membuat dunia kekurangan energi fosil makin nyata. Perlu ada transisi dari energi fosil ke energi terbarukan," papar Herman yang lahir di Payakumbuh Sumatera Barat tahun 1954 itu.
Untuk mencapai keberhasilan transisi energi fosil ke energi terbarukan, ada beberapa faktor pendukung diantaranya kondisi perekonomian sosial dan politik yang ada di negara Indonesia, tersedianya dana untuk mendukung investasi yang diperlukan, bantuan tehnologi internasional serta yang paling utama adalah dukungan masyarakat atas program dan konsekwensi transisi energi.
Herman juga menggaris bawahi, agar penyediaan energi dapat diamankan, maka sudah waktunya ekspor gas alam dan batubara perlu dikurangi dan selanjutnya dihentikan.
"Selain itu sumber daye energi lebih banyak berada di luar Pulau Jawa, ke depan pengembangan industri yang padat energi, harus diselaraskan dengan pengembangan penyediaan energi melalui dibangunnya proyek pengembangan energi di daerah yang kaya energi, seperti di Kalimantan," ungkap Herman.
Lebih lanjut Herman menjelaskan, bahwa untuk mempertahankan ketahanan pangan di Indonesia, upaya yang dilakukan KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) bisa dikuatkan melalui program-program kerja yang nyata yang telah danakan dilaksanakan itu.
"Ingat konflik yang terjadi di Rusia-Ukrania sangat mengganggu ketahanan pangan secara global. Dan untungnya pihak pemerintah telah berbuat salah satunya adalah memberikan subsidi harga pupuk bagi kalangan petani," ujar Herman.
Kuliah umum dan Seminar Ketahanan Energi dan Ketahanan Pangan yang dilaksanakan itu tak lepas dari upaya KTNA bekerja sama dengan Pemprov Kaltim dan Universitas Mulawarman Samarinda disambut antusias kalangan mahasiswa pertanian yang ada di Samarinda dan terbukti adanya perwakilan Stimik Widya Cipt Dharma, Polnes Samarinda dan beberapa perguruan tinggi lainnya. (hoesin kh)