Keasaman Lahan di Kaltim Tinggi

img

Prof DR Ir Rusdiansyah MSi Dekan Faperta Unmul

TINGGINYA keasaman lahan di Kaltim, membuat tumbuhan, utamanya lahan padi sulit untuk berkembang baik dan persoalan tersebut bisa diatasi dengan cara tertentu.

"Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman telah berhasil mengatasi keasaman lahan  dengan menggunakan kapur," ungkap Dekan Fakultas Pertanian Unmul Prof DR Ir Rusdiansyah MSi, saat kuliah umum dan seminar Ketahanan Energi dan Ketahanan Pangan yang dilaksanakan KTNA (Kontak Tani Nelayan Indonesia) bekerja sama dengan Pemprov Kaltim dan Unmul, beberapa waktu lalu di ruang rapat Rektorat Unmul.

Diakui Rusdiansyah, permasalahan pangan yang ada di Kaltim, menjadi salah satu perhatian utama Faperta, sehingga pihak fakultas selalu berupaya untuk melakukan riset dan mencari cara mengatasi persoalan keasaman lahan yang ada di Kaltim dan akhirnya menemukan salah satu cara untuk mengatasi keasaman lahan itu, yaitu dengan mencampurkan lahan yang dengan kapur.

"Perubahan keasaman lahan itu sudah kami ajukan ke pihak  Provinsi Kaltim dan instansi terkait. Terserah pihak Pemprov untuk menindaklanjuti penemuan Fakultas Pertanian tersebut," lanjut Rusdiansyah.

Ditekankan Rusdiansyah, produk beras yang dihasilkan Kaltim boleh dikatakan masih jauh dari kebutuhan warga Kaltim. Kekurangan produk padi di Kaltim mencapai 60 persen.

"Dengan jumlah penduduk yang 3.800.008 jiwa, maka kebutuhan akan padi atau beras di Kaltim, sebanyak 324.319 ton per tahun. Sementara ini hasil produksi padi di Kaltim hanya sebanyak 139.252 ton. Jadi hanya 40 persen dari kebutuhan," tambah Rusdiansyah.

Kekurangan akan kebutuhan beras itu, dipasok oleh provinsi lain, seperti dari Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan juga Kalimantan Selatan.

Karena itu, tekan Rusdiansyah, sudah waktunya instansi terkait mencari solusi untuk mengatasi hal itu, apalagi nantinya Ibukota Nusantara akan berada di Kaltim ini. Secara otomatis jumlah penduduk di Kaltim akan meningkat tajam dan perlu segera adanya pembukaan atau pencetakan lahan sawah baru di Kaltim, yang luasnya bisa mencapai ratusan ribu hektar.

Sementara itu DR Ir Surono yang ahli geofisika dalam paparannya menjelaskan keuntungan  Kaltim yang tidak mempunyai gunung berapi.

"Tidak adanya gunung berapi tersebut membuat masyarakat hidup tenang, tidak perlu was-was dengan munculnya bencana gempa bumi, gunung meletus, seperti yang ada di wilayah provinsi lainnya di Indonesia. Warga mampu beraktivitas dengan tenang," ujar Surono.

Meskipun diakui Surono, daerah gunung boleh dikatakan lahannya subur, namun untuk meningkatkan jumlah produksi berbagai hasil

pangan bisa dilalukan dengan berbagai cara dan salah satunya adalah keberhasilan Faperta menemukan cara untuk mengatasi keasaman tanah," ungkap Surono.

Seiring dengan meningkatnya jumalh penduduk yang ada, meningkat pula penggunaan energi berbahan baku minyak bumi dan batubara yang menyebabkan meningkatnya gas CO2 di udara. Yang akhirnya meningkatkan temperatur bumi sehingga terjadi perubahan iklim.

"Perubahan iklim ini dapat memberikan cuaca ekstrem yang merugikan lingkungan. Karena itu untuk mengatasi pemanasan global itu, perlu adanya lingkungan yang baik dan diharapkan masyarakat menjaga lingkungan hutan secara lestari," tegas Surono. (hoesin kh)