Kerajinan Tradisonal Kukar Tembus Pasar Internasional

img

TENGGARONG – Poduk kerajinan kain ulap doyo bakal dipasarkan ke Malaysia ke depannya. Tak hanya ulap doyo, kerajinan sulam tumpar dan badong tencep siap go international.

Hal itu diketahui saat desainer Kaltim yang menetap di negeri jiran Malaysia, Ade Meiliyana berkunjung ke kampung tenun di Jalan Mangkuraja 6 RT 22, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, beberapa waktu lalu.

Kunjungan Ade bersama timnya merupakan kali kedua di kampung tenun itu. Ketertarikannya pada ulap doyo membuatnya ingin berbagi kreasi dan inovasi agar produk kerajinan khas Kutai itu bisa diterima konsumen luar negeri.

“Kedatangan kami untuk membantu para perajin, targetnya produk kerajinan ulap doyo, sulam tumpar dan badong tencep ini bisa menjadi produk ekspor ke depannya, bukan lagi hanya memenuhi pasar lokal” kata Ade.

Ade tidak memungkiri produk ulap doyo yang ada selama ini terkesan monoton, baik segi pewarnaan dan motif. Maklum, perajin mempelajari ini secara turun-temurun, produk fashion harus menyesuaikan dengan pasar yang dituju.

“Selama ini motifnya begitu-begitu saja, tidak ada inovasi. Kita ingin produk ini juga bisa diterima masyarakat internasional dengan membantu desainnya. Saya membantu inovasi produknya dan link marketingnya” ujarnya.

Apalagi, para perajin lokal ini menggunakan bahan pewarna alami, seperti daun dan kulit kayu, sehingga menghasilkan warna yang lembut.

“Bahan pewarna alami cenderung disukai pasar internasional. Pewarna alam memberikan nilai tambah, karena ramah lingkungan, serta menyelamatkan bumi” tutur ade.

Ade menegaskan, kerja sama dengan para perajin ini tidak hanya pertemuan sekali terus putus. Ia bakal menindaklanjuti dengan pertemuan berikutnya.

“Saya tetap memasarkan produk perajin lokal ini dengan label mereka, jadi bukan lewat label saya meskipun saya bantu dari desainnya” ucapnya.

Ade menyapaiakan, untuk kerajinan sulam tumpar, selama ini dia melihat proses pengerjaannya. Rupanya, perajin menggunaan warna benang yang akan disulamnya secara random dan sesuai mood mereka. Setiap karya dihasilkan dalam warna yang tidak sama padahal penyulamnya sama. Mereka menyulam melalui proses kreatif yang spontan.

“Padahal kerajinan sulam tumpar ini dikerjakan dalam waktu 4 hari, akan sia-sia jika warnanya dipadupadankan, nah saya di sini untuk mempadupadankan warna agar kerajinan ini bisa diterima pasar internasional” terangnya. aji/poskotakaltimnews.com