Belajar dari Dunia Nyata, Bukan Turisme : SMAIT Ash Shohwah Terapkan Pembelajaran Lintas Konteks di Program IEP 2025

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Sebanyak 27 siswa SMAIT Ash Shohwah Berau mengikuti International Education Program (IEP) 2025 yang berlangsung mulai 17 September 2025. Berbeda dari perjalanan studi biasa, program ini dikemas dalam format  semi-backpacke  sederhana, reflektif, dan berbasis pengalaman nyata. Dengan semangat “belajar dari dunia nyata, bukan turisme”, para siswa diajak berinteraksi langsung dengan dunia profesional, akademik, dan sosial di berbagai negara Asia.

 

Perjalanan dimulai di Jakarta seraya menyambut dunia dari Rumah Sendiri dengan tema mengenali identitas nasional di tengah arus globalisasi. Rombongan pertama mengunjungi  BINUS ASO School of Engineering, hasil kolaborasi BINUS University dan Pemerintah Jepang. Di sana, siswa belajar tentang pentingnya kolaborasi lintas negara dan pengembangan inovasi berorientasi global.

 

Kunjungan berlanjut ke Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) untuk memenuhi undangan tim  Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang tengah mengembangkan gim edukatif pencegahan judi online. Menariknya, ketua tim PKM tersebut adalah  Husna Khairunnisa , alumni  SMAIT Ash Shohwah sekaligus Ketua OSIS periode 2019–2020.

 

Selain itu, siswa juga mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Perpustakaan Nasional, dan Monumen Nasional (Monas). Setiap lokasi menjadi laboratorium sosial bagi siswa untuk menautkan nilai-nilai Pancasila dengan konteks global.

 

Saat transit di Singapura, siswa tidak hanya menunggu penerbangan tapi  Singapura  menjadi tempat Belajar dari Ibu Kota Dunia.

 

Disini para siswa  melakukan observasi lapangan di  Merlion Park  dan Marina Bay, mempelajari tata kota, kebersihan, serta disiplin publik. Aktivitas ini bertujuan membandingkan karakter dua ibu kota  Jakarta dan Singapura  dari sisi tata ruang, transportasi, dan budaya warga. Hasilnya, siswa memahami bahwa kemajuan kota berakar pada etika publik dan kedisiplinan sosial.

 

Tiba di Makau pada 21 September, di Makau  Antara Kampus, Krisis, dan Ketangguhan, dimana siswa mengikuti campus tour di  Macau University of Science & Technology (MUST). Para Siswa belajar tentang riset interdisipliner, inovasi digital, dan pelestarian budaya berbasis sains. Kunjungan juga dilakukan ke Taipa Village dan  Coloane untuk memahami akulturasi budaya lokal.

 

“Saya baru sadar bahwa Makau bukan hanya tentang kasino, tetapi tentang sejarah, sains, dan pertemuan budaya,” ujar Raghibah, siswi kelas XI.

 

Namun, rencana kunjungan ke University of Macau pada 23 September dibatalkan akibat  Typhoon Ragasa. Selama badai, siswa bertahan di asrama lokal dan mengubah situasi darurat menjadi ruang belajar kehidupan. Mereka berlatih manajemen logistik, menjaga ibadah berjamaah, berdiskusi, dan beradaptasi dalam kondisi krisis.

 

“Awalnya saya takut, tapi akhirnya saya belajar banyak tentang bagaimana tim menjaga ketenangan dan tetap produktif di tengah badai,” ungkap Rayhan, siswa kelas XI.

 

Ceria, siswi kelas XII, menambahkan, “Kami belajar bahwa rencana bisa berubah, tetapi ketangguhan dan kebersamaan justru lahir dari situasi tak terduga.” Orang tua siswa turut merasakan makna mendalam dari pengalaman tersebut. “Kami sempat cemas, tetapi komunikasi sekolah menenangkan. Anak-anak justru belajar menghadapi krisis nyata pelajaran yang tak bisa didapat di kelas,” ujar orang tua Mardian Alif Fahreza, siswa kelas XI.

 

Setelah badai mereda, rombongan melanjutkan perjalanan ke Hong Kong pada 25 September. Di The Chinese University of Hong Kong (CUHK), siswa berdialog dengan mahasiswa Indonesia dan internasional mengenai isu pendidikan global, lingkungan, serta digital ethics. Ini merupakan kunjungan kedua SMAIT Ash Shohwah ke CUHK setelah kolaborasi perdana tahun sebelumnya.

 

Melalui dialog dan observasi lintas budaya, siswa memahami bahwa menjadi pelajar global berarti mampu beradaptasi, berpikir kritis, dan menjunjung nilai kemanusiaan universal.

 

 Belajar Melalui Pengalaman Nyata, Program IEP 2025 menegaskan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar hafalan teori atau kunjungan ke tempat megah, tetapi tentang  mengalami, memahami, dan merefleksikan kehidupan Dengan konsep semi-backpacker, siswa belajar hidup sederhana, mandiri, dan menghargai proses.

“Global learning doesn’t start with flying abroad; it starts with opening the mind,” menjadi pesan utama dari perjalanan lintas negara ini — bahwa pembelajaran global dimulai dari keterbukaan berpikir dan keberanian keluar dari zona nyaman. (sep/FN)