Refleksi, HOTS dan Lompatan Abad 21 dari IEP 2025
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU: Banyak yang bertanya, apa yang membedakan International Education Program (IEP) dengan study tour biasa? Perbedaan utamanya terletak pada pendekatan pembelajaran mendalam yang dirancang untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS).
Dalam program ini, setiap
siswa tidak hanya berkunjung ke berbagai tempat, tetapi juga menulis jurnal
reflektif harian. Mereka tidak sekadar menuliskan apa yang dilihat, melainkan
juga menggali nilai dan makna di balik setiap pengalaman. Siswa belajar
memotret bukan hanya lanskap, tetapi juga perilaku, nilai kemanusiaan, dan
refleksi sosial yang mereka temui.
Di setiap negara yang
dikunjungi, para peserta dilatih untuk menganalisis, membandingkan, dan menilai
sistem pendidikan, tata kota, serta etos masyarakatnya. Dari hasil pengamatan
tersebut, siswa diajak merancang solusi sederhana terhadap persoalan sosial
yang mereka temukan. Inilah bentuk nyata dari pembelajaran HOTS—analyzing,
evaluating, dan creating dalam konteks dunia nyata.
Guru pendamping, Anjar
Wahyu Ning Tyas, menjelaskan bahwa IEP menjadi wadah pelatihan keterampilan
abad ke-21, yang mencakup critical thinking, creativity, collaboration ,
communication, citizenship, character, dan connectivity. “Siswa belajar mengambil keputusan cepat,
mengelola anggaran, memimpin tim kecil, hingga menghadapi kondisi darurat. Itu
semua bagian dari real-world learning,” ujarnya.
Guru pendamping lainnya,
Saleha menambahkan bahwa tantangan
terbesar dalam IEP adalah menaklukkan ego pribadi demi kepentingan
bersama. “Dalam IEP, menundukkan ego
adalah hal tersulit, baik bagi siswa maupun guru, terlebih menjelang akhir
program ketika kelelahan mulai terasa,” ungkapnya.
Selain melatih kendali
diri, IEP juga dirancang untuk memperluas wawasan dan mendorong thinking leap
atau lompatan berpikir siswa dari sekadar memahami dunia menjadi mampu
memaknainya serta berkontribusi dalam perubahan. Peserta belajar bahwa
globalisasi bukan ancaman, melainkan peluang untuk memberi kontribusi.
Salah satu peserta, Faiz,
siswa kelas XII, mengungkapkan refleksinya setelah mengikuti program ini. “Setiap negara punya pembelajaran, tapi di
bagian akhir, tepatnya di Hong Kong, saya sadar bahwa saya tidak perlu menjadi
yang paling hebat. Saya hanya perlu terus tumbuh menjadi versi terbaik dari
diri saya,” tuturnya.
Senada dengan itu,
Finayya, siswi kelas XII, menilai IEP membuka cara berpikirnya tentang keragaman
dan nasionalisme yang bisa berjalan berdampingan. Program ini juga dinilai
menjadi pengalaman transformasi menuju kedewasaan. Banyak orang tua menyebut
IEP sebagai “hadiah kedewasaan” sebelum anak memasuki jenjang kehidupan yang
lebih luas. Mereka berharap, anak-anak dapat menjadi lebih mandiri, reflektif,
terampil beradaptasi, serta semakin mengenal jati diri dan Tuhannya.
Bagi pihak sekolah, IEP
menjadi ekosistem pembelajaran lintas batas yang menghubungkan ruang kelas
lokal dengan dunia global. Program ini menanamkan nilai religiusitas,
nasionalisme, dan daya saing dalam satu tarikan napas pendidikan yang
diharapkan bermanfaat bagi masa depan siswa.
Ketua Komite SMAIT Ash
Shohwah, Sri Endang , berharap program seperti IEP mendapat dukungan nyata dari
berbagai pihak—orang tua, pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan
masyarakat luas.
“Pembelajaran lintas
konteks seperti ini bukan sekadar kegiatan tambahan, tetapi strategi penting
untuk menyiapkan generasi Berau yang berdaya saing global tanpa kehilangan akar
budaya dan iman,” ujarnya.
Kepala Sekolah SMAIT Ash Shohwah, Ririn Astriani, menegaskan bahwa meski secara geografis Berau berada di ujung Kalimantan, semangat pendidikannya harus melampaui batas-batas wilayah.
“IEP bukan sekadar program, melainkan
perjalanan hati, pikiran, dan karakter menuju manusia pembelajar yang tidak
mengenal batas,” pungkasnya. (sep/FN)