DPMD Kukar Dukung Pengembangan UMKM
(FGD yang dihadiri Perwakilan DPMD Kukar/pic:ist)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Di tengah gencarnya wacana transisi energi menuju
sumber terbarukan, berbagai daerah penghasil tambang kini dihadapkan pada
tantangan besar bagaimana menjaga denyut ekonomi saat industri batubara
perlahan meredup. Menjawab hal itu,
Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kutai Kartanegara (Kukar) ikut
ambil bagian dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Penguatan dan
Pengembangan UMKM dalam Mendorong Transisi Energi Berkeadilan pada Masyarakat
Terdampak Tambang Batubara di Kalimantan Timur.”
Kegiatan yang diinisiasi
oleh Yayasan Mitra Hijau (YMH) bersama Universitas Mulawarman tersebut
berlangsung di Hotel Aston Samarinda,
pada bulan Oktober lalu. Forum ini mempertemukan berbagai pihak dari pemerintah daerah, akademisi, pelaku
usaha, hingga komunitas lokal untuk
duduk bersama merumuskan masa depan ekonomi pascatambang.
Hal tersebut diungkapkan
Ahmad Irji’i, Penggerak Swadaya Masyarakat DPMD Kukar, saat dikonfirmasi awak
media Jumat (07/101/2025). Ia menuturkan bahwa forum ini menjadi ruang penting
untuk melihat secara jernih situasi di lapangan.
“Kami ingin memetakan
tantangan dan peluang bagi pelaku UMKM di wilayah terdampak tambang, serta
mencari strategi agar ekonomi desa tetap hidup meski tambang berhenti,”
ujarnya.
Menurut Irji’i, Kalimantan
Timur sedang berada pada masa transisi yang menentukan. Indonesia kini menapaki
agenda besar menuju energi terbarukan untuk menekan emisi karbon dan mewujudkan
Net Zero Emission. Namun, pergeseran ini tidak datang tanpa risiko sosial.
“Daerah yang bertumpu pada
tambang tentu paling merasakan dampaknya. Karena itu, ekonomi alternatif
seperti UMKM harus benar-benar disiapkan,” katanya.
Berdasarkan data Badan
Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur tahun 2024, sektor pertambangan masih
menyumbang sekitar 46 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
provinsi. Ketergantungan besar ini membuat masyarakat di daerah tambang seperti
Kutai Kartanegara, Paser, dan Samarinda rentan kehilangan penghasilan ketika
produksi menurun.
Lebih lanjut Irji’i
mengatakan FGD ini juga menjadi momentum untuk memikirkan arah baru. Melalui
diskusi intens, para peserta menggali model ekonomi berbasis potensi lokal dari
usaha kecil pengolahan hasil bumi hingga wirausaha kreatif yang bisa bertahan
di luar bayang-bayang tambang.
“Kami ingin memastikan
masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tapi aktor utama dalam ekonomi hijau,”
tutur Irji’i.
Meski peluang terbuka
lebar, tantangan tetap nyata. Banyak pelaku UMKM masih bergelut dengan
keterbatasan modal, kesulitan akses pasar, hingga kemampuan manajerial yang
belum memadai. Kondisi inilah yang membuat sinergi lintas sektor menjadi sangat
penting agar proses transisi tidak meninggalkan kelompok ekonomi kecil.
Dari forum ini, Irji’i
mengungkapkan tercetus harapan agar rekomendasi konkret dapat segera
ditindaklanjuti. Pemerintah daerah bersama dunia usaha dan akademisi diharapkan
menyusun peta jalan penguatan UMKM di wilayah pascatambang. Kolaborasi jangka
panjang pun menjadi kunci untuk menciptakan ekonomi lokal yang tangguh dan
inklusif.
“Kami berharap hasil FGD
ini bisa menjadi pijakan nyata bagi semua pihak dalam memperkuat UMKM di
wilayah terdampak tambang,” pungkas Irji’i.
Terakhir Ia menegaskan,
semangat perubahan harus dimulai dari desa
tempat ketahanan ekonomi Indonesia sesungguhnya dibangun. (Adv/Tan)