Pengguna Teraktif Aplikasi Srikandi, DPMD Kukar Akan Terapkan Standar Administrasi Digital Hingga Tingkat Desa
(Kegiatan kearsipan yang digelar di DPMD Kukar/pic:Tanty)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Di balik layar
modernisasi layanan publik Kutai Kartanegara, para pengguna aplikasi Srikandi
di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) menjadi saksi bagaimana sistem
kearsipan digital mengubah cara kerja mereka. Mereka bukan sekadar operator,
tetapi pionir transformasi administrasi pemerintahan berbasis elektronik.
Sejak aplikasi Srikandi
diperkenalkan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), DPMD Kukar
langsung tancap gas. Para penggunanya mulai dari pejabat hingga staf teknis
mengaku kini jauh lebih terbiasa bekerja cepat dan rapi karena seluruh proses
surat-menyurat berpindah ke sistem digital yang terintegrasi.
Kepala Dinas DPMD Kukar,
Arianto, mengakui bahwa keberhasilan ini berkat keseriusan para pengguna
internal. Mereka ditugaskan mempelajari seluk-beluk sistem hingga mahir
mengoperasikannya.
“Alhamdulillah, staf kami
cepat beradaptasi. Sekarang hampir semua dokumen masuk lewat Srikandi,” ungkap
Arianto belum lama ini.
Arianto mengaku para
pegawai maupun staff dilingkungan DPMD Kukar yang merupakan pengguna Srikandi
merasakan perubahan ritme kerja yang lebih tertib.
“ Tidak lagi ada dokumen
tercecer, tidak lagi ada berkas yang sulit dicari. Satu klik cukup untuk
melacak, mengunggah, atau mendistribusikan surat ke pihak terkait,” katanya.
Diakuin Arianto juga
keberhasilan ini memunculkan rencana besar membawa kenyamanan dan efisiensi
Srikandi hingga ke 193 desa di Kutai Kartanegara.
Ia ingin para perangkat
desa nantinya juga dapat merasakan manfaat yang sama seperti yang mereka alami
di kantor kabupaten.
“Kami ingin desa merasakan
kemudahan yang kami rasakan. Kalau semua surat sudah digital, pelayanan pasti
lebih cepat,” harap Arianto.
Lebih lanjut Arianto
menyebut pihaknya juga tengah mempersiapkan tahapan sosialisasi dan pelatihan.
Ia menyebut nantinya para pengguna Srikandi di DPMD Kukar akan turun langsung
menjadi pendamping teknis, memastikan perangkat desa tidak sekadar belajar,
tetapi benar-benar mampu mengoperasikan aplikasi dengan percaya diri.
“ Kami berkomitmen bahwa
digitalisasi administrasi desa bukan sekadar rencana, melainkan langkah nyata
menuju layanan publik yang lebih transparan, cepat, dan modern. Insya Allah tahun
depan seluruh desa sudah siap,” tutup Arianto. (Adv/Tan)