Dewan Dorong Kenaikan Insentif Guru Ngaji Lewat Skema Kolaboratif
Anggota DPRD Berau,
Sakirman dan Anggota DPRD Provinsi Kaltim, Syarifatul Syadiah.
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Aspirasi para ustaz dan ustazah terkait kenaikan insentif guru ngaji mendapat dukungan dari Anggota DPRD Berau Sakirman dan anggota DPRD Provinsi Kaltim Syarifatul Syadiah. Kedua anggota Dewan tersebut sepakat, menilai bahwa peningkatan kesejahteraan bagi para pendidik Al-Qur’an merupakan kebutuhan mendesak.
Di tengah
keterbatasan anggaran, kedua legislator tetap sepakat bahwa kesejahteraan guru
ngaji tetap harus diperjuangkan. Skema kolaboratif antara Pemkab Berau ,
Pemerintah Provinsi, BKPRMI, dan perusahaan melalui CSR dinilai sebagai solusi
paling realistis saat ini. Harapan tetap menyala, dengan komitmen bahwa
peningkatan insentif dapat direalisasikan ketika kondisi fiskal daerah kembali
stabil.
Menurut penjelasan
anggota Komisi II DPRD Berau Sakirman, menyebut kendatipun Berau selama ini menjadi daerah dengan
pemberian insentif tertinggi bagi guru ngaji se-Kalimantan Timur, namun untuk menaikkannya
masih perlu dipertimbangkan.
“Memang kita berharap
ada kenaikan, tapi kita harus lihat kondisi keuangan yang tidak hanya terdampak
di daerah, tetapi juga di tingkat nasional,” tegasnya.
Meski begitu, ia
memastikan peluang kenaikan tetap terbuka, terutama jika kondisi fiskal daerah
membaik. “Mudah-mudahan tahun 2027 kalau anggaran kita membaik, kita bisa
upayakan peningkatan insentif. Ini akan kita bahas dengan Bupati dan Banggar,”
tambahnya.
Senada dengan itu, anggota DPRD Provinsi Kaltim Syarifatul Syadiah
mengatakan, guru ngaji memiliki peran strategis dalam membentuk karakter
generasi muda.
“Maka sudah
seharusnya tuntutan mereka terhadap peningkatan insentif sangat wajar karena
menyangkut penghargaan terhadap profesi mulia. Disamping Mereka mendidik
generasi kita berakhlakul karimah. Ini pekerjaan mulia, jadi permintaan
kenaikan insentif itu sangat wajar,” ujar Syarifatul Syadiah.
Namun, ia mengakui
bahwa Kalimantan Timur sedang menghadapi tekanan anggaran. Pemotongan lebih
dari Rp6 triliun membuat ruang fiskal daerah semakin terbatas.
“Untuk belanja infrastruktur dan operasional saja kita masih kekurangan. Jadi harus ada langkah antisipasi,” jelasnya.
Sebagai langkah
jangka pendek, Syarifatul mendorong optimalisasi dukungan CSR dari
perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Kaltim, termasuk Berau. Ia
menilai kolaborasi antara pemerintah kabupaten, provinsi, BKPRMI, dan sektor
swasta dapat membuka peluang pemenuhan harapan para guru ngaji. (sep/FN/Advertorial)