Gelombang PHK Tambang Mulai Terjadi, Ekonomi Warga Akan Terpukul : DPRD Berau Minta Perusahaan Utamakan Tenaga Kerja Lokal
Wakil Ketua II DPRD Berau Sumadi.
POSKOTAKALTIMNEWS,
BERAU : Gelombang
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mulai terjadi pada sektor pertambangan di Kabupaten
Berau kini memunculkan kekhawatiran besar terhadap kondisi ekonomi masyarakat. DPRD
Berau meminta perusahaan tidak menjadikan pekerja lokal sebagai korban utama
dalam kebijakan pengurangan tenaga kerja.
Kondisi ini menjadi
sorotan serius karena sektor pertambangan selama bertahun-tahun menjadi salah
satu penopang utama perekonomian masyarakat Berau. Ketika perusahaan mulai
melakukan efisiensi dan pengurangan karyawan, dampaknya dipastikan langsung
dirasakan oleh banyak keluarga yang menggantungkan hidup dari industri
tersebut.
Wakil Ketua II DPRD
Berau, Sumadi, mengaku prihatin atas situasi yang kini mulai dirasakan
masyarakat. Ia menilai, gelombang PHK bukan hanya berdampak pada hilangnya
pekerjaan, tetapi juga berpotensi memicu persoalan sosial dan meningkatnya
angka pengangguran di daerah.
Menurutnya,
perusahaan yang beroperasi di Berau harus tetap menunjukkan keberpihakan kepada
tenaga kerja lokal, terutama di tengah situasi sulit yang sedang dihadapi
masyarakat saat ini.
“Kondisi ini menjadi
perhatian kami, jangan sampai terbalik, nanti justru yang banyak masyarakat
Berau yang di-PHK, orang luar yang diperkerjakan. Ini harapan kami ke situ,”
ujarnya.
Apalagi tambahnya,
keberadaan perusahaan di Berau sejak awal juga bertujuan memberikan manfaat
ekonomi bagi masyarakat sekitar. Karena itu, perusahaan diminta
mempertimbangkan dampak sosial sebelum mengambil kebijakan pengurangan tenaga
kerja secara besar-besaran.
Sumadi menyebut,
tanpa adanya PHK pun jumlah pengangguran di Berau saat ini sebenarnya sudah
cukup tinggi. Apalagi jika gelombang pemutusan hubungan kerja terus bertambah,
maka kondisi ekonomi masyarakat diperkirakan akan semakin berat.
Menurutnya, situasi
ini tidak boleh dianggap sepele karena menyangkut keberlangsungan hidup
masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Ini tidak main-main PHK ini
ya,” tegasnya.
Di tengah ancaman
meningkatnya pengangguran, DPRD Berau juga mendorong Pemerintah Kabupaten Berau
untuk segera mengambil langkah konkret dalam menciptakan sumber ekonomi baru di
luar sektor pertambangan.
Salah satu langkah
strategis yang dinilai perlu dipercepat adalah pembangunan hilirisasi industri
berbasis potensi daerah. Menurut Sumadi, Berau memiliki sumber daya alam yang
besar, namun hingga kini sebagian besar masih dijual dalam bentuk bahan mentah
tanpa pengolahan maksimal di daerah sendiri.
Ia mencontohkan
sektor perkebunan kelapa sawit yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan
menjadi industri pengolahan minyak goreng maupun produk turunan lainnya yang
memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Jika hilirisasi berjalan maksimal, maka
peluang penyerapan tenaga kerja lokal akan semakin terbuka luas dan
ketergantungan masyarakat terhadap sektor tambang bisa perlahan dikurangi.
“Bisa kita lihat
seperti Daerah Bontang contohnya itu tanpa punya kebun sawit dia bisa
hilirisasi, kenapa kita tidak, ini yang kita maksud,” ungkapnya.
Selain mendorong
pemerintah dan perusahaan, Sumadi juga menitipkan pesan kepada masyarakat yang
terdampak PHK agar tidak hanya bergantung pada satu sektor pekerjaan saja.
Ia menilai, Berau
masih memiliki banyak potensi ekonomi lain yang bisa dimanfaatkan masyarakat
sebagai sumber penghasilan baru. Sektor perkebunan, pertanian, perikanan hingga
usaha mandiri dinilai masih sangat terbuka untuk dikembangkan, terutama di tengah
kondisi industri tambang yang cenderung fluktuatif dan bergantung pada pasar
global.
Menurutnya,
masyarakat perlu mulai beradaptasi dengan perubahan kondisi ekonomi agar tetap
memiliki peluang bertahan di tengah situasi sulit saat ini.
“Karena kalau hanya
berpusat ke tambang, ya itulah risikonya, ketika tambang pengurangan tenaga
kerja maka ini lah sangat-sangat kritis begini,” pungkasnya. (sep/FN/Advertorial)