Kemarau Panjang Ancam Keberlangsungan Pertanian dan Memicu Risiko Karhutla, Pemkab Berau Ajukan Rekayasa Cuaca ke BNPB
Bupati Berau Sri Juniarsih Mas.
POSKOTAKALTIMNEWS,
BERAU : Kemarau berkepanjangan membuat kondisi
lahan semakin kering, sementara sektor pertanian mulai merasakan dampaknya. Ditambah
lagi dengan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat panas ekstrem.
Menghadapi kondisi
ini Pemerintah Kabupaten Berau tidak ingin hanya menunggu hujan turun dengan
sendirinya. Pemkab Berau mengajukan permintaan rekayasa cuaca kepada Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk membantu mengatasi situasi yang
sedang terjadi.
Bupati Berau Sri
Juniarsih Mas mengatakan, komunikasi dengan BNPB telah dilakukan. Pemerintah
daerah juga berupaya menggandeng TNI apabila pelaksanaan rekayasa cuaca
nantinya mendapat persetujuan.
“Kami sedang
melakukan komunikasi dengan BNPB untuk dibantu, bekerja sama dengan TNI, untuk
segera mungkin melakukan rekayasa hujan buatan,” ujar Sri Juniarsih, Kamis
(20/8/2026).
Permohonan tersebut bukan
tanpa alasan, kekeringan yang berlangsung cukup panjang mulai menimbulkan sejumlah
persoalan di lapangan. Ketersediaan air menjadi semakin terbatas, sementara
kebutuhan sektor pertanian terus berjalan. Pada saat yang sama, lahan dan
vegetasi yang mengering membuat potensi karhutla ikut meningkat.
Sebelum mengajukan
rekayasa cuaca, Pemkab Berau bersama masyarakat telah melakukan berbagai
ikhtiar untuk menghadapi kekeringan. Salah satunya dengan melaksanakan salat
istisqa.
Rekayasa cuaca
menjadi salah satu upaya lain yang kini diajukan kepada pemerintah pusat, Sri
Juniarsih menjelaskan, permohonan dukungan tersebut telah disampaikan secara
resmi melalui surat kepada Kementerian terkait dan BNPB. Surat tersebut juga
ditembuskan kepada Gubernur Kalimantan Timur, TNI, dan Polri.
“Saya sudah melakukan
komunikasi dengan gubernur. Tembusan surat itu kepada TNI, Polri, kementerian
yang terkait dan kepada Gubernur Kalimantan Timur. Kita masih menunggu jawaban
dari BNPB,” katanya.
Dengan demikian,
Pemkab Berau saat ini masih menunggu kepastian apakah dukungan rekayasa cuaca
dapat diberikan. Jika disetujui, Pemkab Berau berharap pelaksanaannya dapat
diarahkan ke wilayah-wilayah yang membutuhkan secara optimal.
Mengingat tambahnya,
kekeringan menjadi persoalan yang sangat serius bagi sektor pertanian. Dan air
bukan hanya dibutuhkan untuk mempertahankan tanaman yang sedang tumbuh, tetapi
juga menentukan keberlanjutan musim tanam berikutnya.
Dampak kekeringan terlihat
di Kampung Labanan Jaya, Kecamatan Teluk Bayur. Pada musim tanam gadu 2026,
sekitar 118,7 hektare lahan ditanami padi. Namun, dari luasan tersebut, sekitar
75 hektare berhasil dipanen, sedangkan 11,5 hektare mengalami gagal panen
akibat kekeringan.
Produktivitas
rata-rata lahan yang berhasil dipanen mencapai sekitar 3,19 ton per hektare.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kondisi normal yang dapat mencapai
sekitar 4,5 ton per hektare.
Penurunan
produktivitas itu menjadi salah satu gambaran bahwa kemarau tidak hanya
terlihat dari tanah yang mengering, tetapi juga mulai berdampak terhadap
produksi pangan.
Jika kondisi tersebut
berlangsung lebih lama, tekanan terhadap petani dan ketahanan pangan daerah
berpotensi semakin besar. Karena itu, upaya mendatangkan hujan menjadi salah
satu langkah yang diharapkan dapat membantu mengurangi tekanan tersebut.
Persoalan kekeringan
juga tidak berhenti pada sektor pertanian. Ketika lahan semakin kering, potensi
kebakaran hutan dan lahan ikut meningkat.
Sri Juniarsih secara
khusus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Menurutnya, kondisi saat ini terlalu berisiko untuk melakukan pembakaran lahan.
“Saya meminta kepada
seluruh masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran hutan dalam meluaskan lahan
kita. Karena kondisinya sangat kering saat ini, kita harus mengurangi
kemungkinan-kemungkinan yang dapat merugikan kita bersama,” tegasnya.
Selain meminta
bantuan rekayasa cuaca, Pemkab Berau juga menyiapkan langkah antisipasi jika
terjadi karhutla. Sri Juniarsih mengatakan pemerintah telah berkoordinasi
dengan perusahaan-perusahaan untuk mendapatkan dukungan dalam penanganan di
lapangan. Dukungan tersebut antara lain berkaitan dengan kebutuhan bahan bakar
minyak (BBM) bagi unit-unit yang melakukan penanganan. (sep/FN)