BMKG Berau Ungkap Fakta di Balik OMC Hari Kelima: Awan Hujan Tak Kunjung Muncul hingga Sore, Lima Sorti Sudah Dilakukan

img

Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi.

 

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Harapan menghadirkan hujan untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau belum sepenuhnya terwujud.

 

Memasuki hari kelima pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), Jumat (28/8/2026), kondisi cuaca di wilayah Berau belum mendukung dilakukannya penerbangan OMC. Hingga pukul 17.00 WITA, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Berau belum mendeteksi adanya awan potensial hujan.

 

Kondisi ini membuat penerbangan OMC pada hari kelima belum dapat dilakukan. Padahal, operasi yang melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG tersebut diharapkan dapat membantu menghadirkan hujan untuk mendukung penanganan karhutla.

 

Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi, mengungkapkan kondisi pertumbuhan awan selama lima hari pelaksanaan OMC mengalami perubahan.

 

Pada hari pertama hingga ketiga, BMKG masih mendeteksi pertumbuhan awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Awan tersebut terpantau mulai tumbuh pada rentang waktu sekitar pukul 15.00 hingga 20.00 WITA.

 

“Pertumbuhan awan yang potensial terdapat di hari pertama sampai ketiga pelaksanaan OMC, dimana awan potensial hujan terdeteksi mulai pukul 15.00 sampai 20.00 WITA,” ujar Ade saat diwawancarai, Jumat (28/8/2026).

 

Namun, kondisi tersebut tidak terjadi secara konsisten. Pada hari keempat, awan potensial hujan baru terdeteksi sekitar pukul 16.00 WITA.

 

Sementara memasuki hari kelima, situasinya kembali berbeda. Hingga pukul 17.00 WITA, BMKG belum menemukan tutupan awan hujan yang dapat menjadi sasaran pelaksanaan OMC.

 

“Saat ini total pelaksanaan OMC sampai sore ini sudah terlaksana lima sorti. Untuk hari ini sampai jam 17.00 WITA atau jam 5 sore belum ada terdeteksi awan hujan, jadi belum ada penerbangan OMC,” jelas Ade.

 

Jika dihitung sejak hari pertama, sebanyak lima sorti penerbangan OMC telah dilaksanakan. Rinciannya, satu sorti pada hari pertama, dua sorti pada hari kedua, satu sorti pada hari ketiga, dan satu sorti pada hari keempat.

 

Tidak adanya penerbangan pada hari kelima bukan berarti pelaksanaan OMC dihentikan. Kondisi tersebut lebih berkaitan dengan faktor cuaca, khususnya keberadaan awan potensial yang menjadi sasaran operasi.

 

Artinya, ketika awan yang memenuhi kondisi untuk dilakukan penyemaian tidak terbentuk di wilayah Berau, penerbangan OMC tidak dapat dilakukan.

 

OMC berakhir sesuai jadwal tgl 28 Agustus, pesawat BNPB di jadwalkan akan kembali ke Kalsel untuk melanjutkan penanggulangan karhutla mengingat kondisi disana yg lebih tebal asapnya.

 

Untuk OMC berikutnya Ade mengatakan pihaknya masih menunggu perencanaan dari BNPB serta koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Berau dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

 

Apabila Pemprop yang meminta ke BNPB wilayah operasi OMC menjadi lebih luas dan operasional lebih fleksibel

 

“Kalau di wilayah Berau tidak terdeteksi awan hujan, tapi di Selatan Berau terdeteksi, dengan diperluas wilayah operasionalnya maka OMC bisa dilakukan diwilayah tersebut, yang memungkin berdampak baiknya ke wilayah kita berupa hujan yang bergerak menuju kita karena saat ini pola angin bergerak dari selatan dan barat daya,” ujarnya.

 

Perluasan wilayah tersebut tentunya masih menunggu perencanaan dan koordinasi lebih lanjut antara BNPB dengan pemerintah daerah serta pihak terkait.

 

Di sisi lain, kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan OMC tidak hanya ditentukan oleh kesiapan pesawat dan bahan semai, tetapi juga sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan keberadaan awan yang memenuhi kriteria untuk dilakukan penyemaian.

 

Secara umum selama OMC terpantau hujan turun di sebagian Gunung Tabur, sebagian Teluk Bayur, sebagian sambaliung, sebagian pulau Derawan, sebagian Kelay dan Segah, sebagian Tabalar.

 

Ade mengatakan informasi lebih spesifik mengenai rencana dan teknis pelaksanaan OMC selanjutnya dapat dikonfirmasi kepada tim BNPB.

 

“Untuk lebih spesifiknya bisa tanya ke tim BNPB,” pungkasnya. (Sep/FN)