Intrusi Air Laut Hentikan Operasi PDAM di Anggana dan Sanga-Sanga, 7.500 Pelanggan Terdampak

img

Distribusi air bersih menggunakan mobil tengki kepada masyarakat. (Doc. Istimewa)


POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Intrusi air laut menghentikan sementara operasi Perumda Air Minum Tirta Mahakam di Kecamatan Anggana dan Sanga-Sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Gangguan tersebut berdampak terhadap sekitar 7.500 pelanggan di dua kecamatan tersebut.


Intrusi air laut merupakan kondisi ketika air laut masuk ke wilayah perairan tawar, termasuk aliran sungai, sehingga kadar garam dalam air meningkat.

 

Kondisi ini menyebabkan air baku yang menjadi sumber pengolahan air bersih tidak lagi memenuhi batas kualitas untuk diolah dan didistribusikan kepada masyarakat.

 

Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono mengatakan, Pemkab Kukar kini menyiapkan langkah antisipasi agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi selama pelayanan terganggu.

 

Menurutnya, intrusi air laut paling nyata saat ini terjadi di Sanga-Sanga. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sumber air baku di wilayah itu berasal dari sungai yang terdampak masuknya air laut.

 

“Informasi terakhir yang kami dapatkan, yang sekarang ada intrusi air lautnya, artinya air laut sudah masuk ke wilayah sungai, di wilayah Kukar itu ada di Kecamatan Sanga-Sanga,” ujarnya saat ditemui di lapangan Polres Kukar, Sabtu (29/8/2026).

 

Untuk mengantisipasi kebutuhan air masyarakat, Pemkab Kukar menyiapkan dukungan armada dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar).

 

“Dan kita dari BPBD juga Damkar mesti menyiapkan armada kalau memang ada keluarga atau masyarakat yang masih membutuhkan. Atau akan melakukan distribusi dari Samarinda, mengambil air dari Samarinda. Intinya kita bersiap untuk itu,” ungkapnya.

 

Ia menyebut, wilayah pesisir lainnya juga perlu diantisipasi karena intrusi air laut berpotensi bergerak dari kawasan muara menuju wilayah sungai.

 

“Kalau intrusi air laut itu kan wilayahnya muaranya dari Sanga-Sanga. Artinya Anggana bisa saja kena, tapi Anggana kan masih ada wilayah sungai yang kecil,” kata dia.

 

Pemkab Kukar selanjutnya akan menyesuaikan langkah penanganan dengan perkembangan kondisi air baku di masing-masing wilayah, termasuk memastikan ketersediaan pasokan apabila kualitas air terus menurun.

 

Sementara itu, Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Mahakam Tenggarong, Suparno menjelaskan, penghentian sementara operasi dilakukan setelah hasil pemantauan menunjukkan kualitas air baku tidak lagi memungkinkan untuk digunakan dalam pelayanan normal.

 

Salah satu parameter yang menjadi perhatian adalah kadar klorida. Berdasarkan hasil pengukuran terakhir, angkanya mencapai 3.600, jauh di atas batas acuan operasional yang berada di angka 250.

 

Kondisi tersebut membuat Perumda harus menghentikan pengolahan untuk menjaga kualitas air yang diterima pelanggan.

 

Selain berdampak terhadap kualitas air, kadar garam yang tinggi juga dikhawatirkan memengaruhi peralatan dalam sistem pengolahan.

 

“Karena memang juga nanti kita khawatirkan akan memengaruhi peralatan yang kita miliki, seperti pompa injeksi,” ujarnya.

 

Dari sisi penggunaan, masyarakat di wilayah terdampak juga diminta berhati-hati.

 

Untuk sementara, air yang masih tersedia dapat digunakan untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK), sementara penggunaan untuk konsumsi perlu memperhatikan kualitas air.

 

“Karena memang kualitasnya atau rasanya masih hanta, itu seperti asin-asin, diakibatkan karena itu,” jelasnya.

 

Untuk menjaga pelayanan tetap berjalan, Perumda Tirta Mahakam kini menyiapkan sumber air alternatif.

 

Salah satunya dengan berkoordinasi bersama PDAM Samarinda untuk mendapatkan pasokan air yang kualitasnya masih memenuhi syarat.

 

Pasokan tersebut nantinya diangkut menggunakan mobil tangki menuju wilayah terdampak.

 

Meski jumlahnya belum diperkirakan mampu memenuhi seluruh kebutuhan pelanggan, langkah tersebut disiapkan untuk mengurangi dampak penghentian pelayanan.

 

“Samarinda kan belum asin sekarang ini, jadi kita minta bantu teman-teman PDAM Samarinda untuk dapat sumber air itu yang kami bawa dengan mobil tangki ke Anggana,” kata dia.

 

Selain Sanga-Sanga dan Anggana, kondisi sumber air baku di sejumlah wilayah pesisir Kukar juga menjadi perhatian.

 

Beberapa di antaranya yakni Muara Jawa, Samboja, dan Muara Badak.

 

Untuk Muara Jawa, ia menyebut kondisi saat ini masih relatif aman karena sumber air bakunya berasal dari sumur dalam.

 

Namun, kemarau berkepanjangan tetap menjadi ancaman karena dapat memengaruhi kemampuan sumber air tersebut dalam memasok kebutuhan masyarakat.

 

“Satu sumur itu kan biasanya kita ambil hanya 20 liter per detik. Dengan tidak turunnya hujan ini, saya khawatirnya sumber air dalam itu juga akan terpengaruh. Ini yang kita harus waspadai,” ungkapnya.

 

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat juga diminta ikut menjaga ketersediaan air di tingkat rumah tangga. Air bersih yang masih mengalir disarankan untuk ditampung, sedangkan penggunaannya perlu dihemat dan diprioritaskan untuk kebutuhan penting.

“Kami imbau kepada masyarakat untuk pertama menampung air bersih selama itu masih bisa mengalir. Kemudian yang kedua juga dengan cara menghemat. Artinya, bijaklah dalam menggunakan air bersih ini,” pungkasnya. (Kriz)