Kabut Asap Mulai Mengganggu Aktivitas Warga, DPRD Kukar Dorong Penanganan Dini
Kondisi terkini kabut asap yang ada di kecamatan Tenggarong. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Kabut asap mulai mengganggu aktivitas masyarakat di Kutai Kartanegara (Kukar). Kondisi tersebut mendapat perhatian DPRD Kukar yang mendorong pemerintah segera melakukan penanganan dini, sebelum kabut asap semakin pekat dan berdampak lebih luas terhadap kesehatan serta aktivitas masyarakat.
Musim kemarau membuat sejumlah wilayah
Kalimantan berada dalam kondisi kering, sementara potensi kebakaran hutan dan
lahan (karhutla) meningkat.
Ketika kebakaran terjadi, asap yang terbawa
angin dapat menumpuk di wilayah tertentu dan membuat kualitas udara memburuk
hingga mulai mengganggu aktivitas warga.
Anggota Komisi IV DPRD Kukar, Akhmad Akbar
Haka Saputra mengatakan pihaknya telah membahas persoalan tersebut di tingkat
komisi.
Pembahasan itu menjadi langkah awal sebelum
DPRD memanggil pihak terkait melalui rapat dengar pendapat (RDP).
“Jangan sampai kita biarkan seperti dulu,
setelah meluas, setelah mengganggu aktivitas masyarakat dan kondisi udara sudah
pekat, baru ada langkah-langkah yang cukup strategis,” ujarnya, Senin
(31/8/2026).
Menurutnya, kondisi asap yang mulai pekat
tidak hanya menjadi persoalan di Kukar, tetapi juga terlihat di sejumlah
wilayah Kalimantan Timur dan provinsi tetangga.
Situasi tersebut menunjukkan perlunya koordinasi
lintas daerah dalam mengantisipasi dampaknya.
“Harapannya memang langkah konkret harus kita
ambil,” ucapnya.
Ia menilai dampak kabut asap tidak hanya
berkaitan dengan kualitas udara, jika kondisinya semakin buruk, masyarakat
berpotensi mengurangi aktivitas di luar rumah karena khawatir terhadap gangguan
kesehatan.
“Jadi harapannya kita mencegah sebelum
mengganggu pergerakan atau ekonomi masyarakat, karena masyarakat mungkin takut
keluar, takut terkena ISPA,” tuturnya.
Karena itu, kata dia, DPRD Kukar mendorong
agar langkah antisipasi tidak menunggu sampai kondisi udara berada pada tingkat
yang membahayakan.
Ia menyebut, Komunikasi awal dengan pihak
terkait pun telah dilakukan untuk menentukan langkah selanjutnya.
“Harapan kita memang dalam waktu dekat kita
akan mengambil langkah-langkah konkret. Jadi sudah kita mulai komunikasikan di
ruangan komisi,” ucapnya.
Salah satu sektor yang turut menjadi perhatian
karena tebalnya kabut asap adalah dunia pendidikan.
Ia mengatakan kebijakan terhadap kegiatan
belajar tatap muka dapat dievaluasi apabila kualitas udara sudah berada pada
tingkat yang membahayakan kesehatan peserta didik.
“Kalau misalkan kabutnya sudah dalam titik
yang tidak bisa lagi dan cukup membahayakan masyarakat, terutama terkait
penyakit ISPA, harapan kita memang harus mulai diliburkan,” jelasnya.
Menurutnya, penghentian sementara kegiatan
tatap muka bukan berarti proses pendidikan harus terhenti.
Pembelajaran dapat dialihkan ke sistem daring
apabila kondisi memang mengharuskan siswa belajar dari rumah.
“Karena kalau dipaksakan pendidikan tatap muka
di sekolah, khawatirnya penyakit ISPA akan mulai meluas di Kukar,” kata dia.
Sementara itu, Asisten II Bidang Perekonomian
dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Kukar, Muhammad Iriyanto,
mengatakan penanganan kabut asap perlu mengacu pada kondisi kualitas udara dan
ambang baku mutu yang berlaku.
Ia menyebut kondisi udara secara umum masih
tergolong baik, meski terdapat sejumlah titik yang mulai menunjukkan
pencemaran.
Karena itu, masyarakat diminta tidak
mengabaikan potensi dampak kesehatan dari paparan asap.
“Paling tidak, imbau kepada masyarakat, mulai
sekarang ancaman ISPA ditangani secara mandiri, kita pakai masker
masing-masing,” ujarnya.
Ia juga mendorong keterlibatan Dinas Kesehatan
dalam menyiapkan langkah antisipasi, termasuk kemungkinan penyediaan masker
apabila kondisi udara semakin memburuk.
Menurutnya, upaya tersebut penting agar
peningkatan gangguan pernapasan tidak berujung pada lonjakan pasien di
fasilitas kesehatan.
“Karena mencegah lebih baik daripada
mengobati. Kalau mengobati nanti antre lagi di rumah sakit,”tuturnya.
Pencegahan sejak awal dinilai lebih efektif
dibandingkan menunggu masyarakat jatuh sakit dan membutuhkan pelayanan medis
secara bersamaan.
Ia pun menyebut, terdapat sejumlah titik yang
kualitas udaranya mulai berada di bawah baku mutu dan masuk kategori rawan.
“Ada beberapa titik yang sudah di bawah baku
mutu kualitas udaranya, sudah rawan, ya mungkin di daerah pedalaman yang
banyak,” pungkasnya. (kriz)