Kabut Asap Dampak Karhutla Masih Terlihat, DLHK Berau Kembali Lakukan Uji Kualitas Udara

img

Dua hari, (4-5 September 2026) Petugas UPTD Laboratorium Lingkungan DLHK Berau melakukan pengujian kualitas udara di halaman Kantor Bupati Berau. Langkah ini menjadi pengujian kedua yang dilakukan DLHK selama periode Karhutla. (foto : sep/fn)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau kembali turun tangan memastikan kondisi asap yang masih terlihat, dengan melakukan pengujian kualitas udara. Pengujian tersebut dilakukan selama dua hari, yakni 4–5 September 2026, di halaman Kantor Bupati Berau. Langkah ini menjadi pengujian kedua yang dilakukan DLHK selama periode Karhutla.

 

Sebelumnya, UPTD Laboratorium Lingkungan DLHK Berau telah melakukan pengukuran pada 28–29 Agustus 2026 di halaman Kantor DLHK Berau. Hasil pengukuran pertama menunjukkan kondisi yang patut diwaspadai.

 

Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada pada kategori tidak sehat. Sejumlah parameter pencemar juga tercatat cukup tinggi. Parameter Total Suspended Particulate (TSP) mencapai 193, kemudian PM10 berada di angka 158 dan PM2.5 mencapai 139 . Sementara kadar karbon monoksida (CO) tercatat sebesar 1,24.

 

Tingginya sejumlah parameter tersebut menjadi perhatian karena kualitas udara yang buruk dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat, khususnya sistem pernapasan. Kondisi itu pula yang membuat DLHK Berau kembali melakukan pengukuran untuk mendapatkan gambaran terbaru kualitas udara di tengah paparan kabut asap karhutla.

 

Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhari, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap sepele kondisi udara saat ini, terutama bagi warga yang harus melakukan aktivitas di luar ruangan.

 

“Bila aktivitas di luar ruangan, upayakan memakai masker dan banyak minum air putih. Masyarakat juga sama-sama menjaga bahaya api, untuk tidak membakar sampah sembarangan, lahan maupun hutan. Jaga lingkungan tetap bersih,” ujar Zulkifli saat dikonfirmasi, Sabtu (5/9/2026).

 

Menurutnya, pencegahan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting untuk mencegah munculnya titik api baru yang dapat memperburuk kondisi lingkungan dan kualitas udara.

 

Terlebih, paparan asap karhutla berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Karena itu, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk serta menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar rumah.

 

DLHK Berau terus melakukan pemantauan melalui pengujian kualitas udara. Hasil pengukuran terbaru nantinya menjadi gambaran langkah apa yang akan diambil Pemerintah selanjutnya. (sep/FN)