Tari Massal Erau 2026 Libatkan Beragam Etnis, Angkat Pesan Menjaga Sungai Mahakam

img

Penari Tari Massal Erau 2026 saat mengikuti latihan di Lapangan Stadion Rondong Demang, Tenggarong. (kriz)

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Pertunjukan Tari Massal Erau 2026 melibatkan beragam etnis di Kalimantan Timur sekaligus membawa pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian Sungai Mahakam. Pesan tersebut dikemas melalui pertunjukan bertajuk “Penjaga Takhta di Tepi Sungai Mahakam” yang memadukan unsur budaya Melayu pesisir dan sejumlah subetnis Dayak.

Erau sendiri merupakan tradisi budaya masyarakat Kutai yang menjadi bagian penting dari kehidupan adat Kesultanan Kutai Kartanegara. 

Pelaksanaannya identik dengan kemeriahan dan kebersamaan masyarakat. 

Pimpinan Produksi Tari Massal Erau 2026, Misra Budiarto Ax mengatakan persiapan telah berjalan dan kini memasuki latihan ke-19. 

Sebanyak 12 pelatih sebelumnya disiapkan untuk kemudian melatih sekitar 350 penari yang akan tampil dalam pertunjukan.

“Alhamdulillah, kita sudah cukup baik untuk mempersiapkan tari massal di Erau ini. Diawali dengan latihan para pelatih, itu ada 12 orang. Setelah itu, yang 12 orang itu akan turun melatih para anggota yang terlibat di tari massal ini,” ujarnya saat ditemui di lapangan Stadion Rondong Demang, Tenggarong pada Sabtu (5/9/2026).

Ia menjelaskan latihan akan berlangsung hingga menjelang pelaksanaan. 

Gladi kotor dijadwalkan 15 September, gladi bersih 18 September, sedangkan 19 September digunakan untuk persiapan properti, kostum dan kebutuhan pendukung, pertunjukan utama dijadwalkan pada 20 September 2026.

Menurutnya, tajuk “Penjaga Takhta di Tepi Sungai Mahakam” tidak sekadar menjadi tema pertunjukan, tetapi membawa pesan mengenai tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan dan sungai.

“Yang mengartikan alam ini, sungai ini bukan saja tanggung jawab pemerintah, bukan saja tanggung jawab kepala daerah, bukan saja tanggung jawab kesultanan, tapi tanggung jawab kita bersama untuk memelihara alam dan sungainya,” tuturnya.

Dari sisi artistik, ia memastikan konsep tahun ini berbeda dengan pertunjukan sebelumnya dimana Ia menghindari konsep yang terlalu teatrikal dan lebih menekankan perpaduan koreografi dengan musik agar menghasilkan pertunjukan yang menarik bagi penonton.

“Saya tidak mau yang teatrikal. Alasannya, pertama kita bukan malam, dan kita berkeinginan tari massal ini memang menjadi satu hiburan yang memukau,” jelasnya.

Tari tersebut dibagi menjadi lima babak hingga bagian akhir dengan melibatkan unsur Melayu pesisir, Dayak Benuq, Modang, Kenyah, Tunjung dan Bahau.

“Konsep kita pada tahun ini semua etnis itu kita libatkan, karena ini namanya Erau. Kalau Erau itu artinya ramai-ramai, oleh karena itu bagaimana kita melibatkan etnis-etnis ini,” ungkapnya.

Namun, persiapan menuju pertunjukan tidak hanya menyangkut penguasaan koreografi. Kondisi fisik para penari juga menjadi perhatian, terutama karena latihan berlangsung di tengah cuaca panas. 

Untuk mengantisipasi gangguan kesehatan, pihak penyelenggara menggandeng PMI yang telah memberikan dukungan sejak awal latihan.

“Alhamdulillah, PMI itu dari awal sudah membantu kita sampai hari ini,” sebutnya.

Menurutnya, dukungan medis akan tetap disiapkan hingga rangkaian gladi dan hari pelaksanaan. Kebutuhan seperti vitamin maupun penanganan keluhan kesehatan peserta juga telah diantisipasi.

“Sementara ini hanya mungkin yang disiapkan oleh PMI. Jadi apabila ada diperlukan, mau vitamin maupun mungkin ada seperti penyakit maag, itu di PMI sudah disiapkan,” kata dia.

Sementara itu, Salah seorang penari, Muhammad Dzaky Efendi, mengaku antusias mengikuti setiap proses latihan yang telah dijalani. 

Ia menyebut keterlibatan dalam Tari Massal Erau 2026 bukan hanya kesempatan untuk tampil, tetapi juga menjadi pengalaman untuk belajar dan mengembangkan kemampuan menari bersama ratusan peserta lainnya.

“Ini juga menjadi pengalaman yang menarik bagi saya, karena kami bisa berlatih bersama banyak penari dan belajar untuk lebih kompak dalam mengikuti setiap gerakan,” ujarnya.

Ia mengaku semangatnya semakin bertambah karena konsep tahun ini melibatkan beragam etnis dan unsur budaya. 

Menurutnya, keberagaman tersebut membuat proses latihan terasa lebih menarik sekaligus memberikan pengalaman baru bagi para penari.

“Walaupun latihannya cukup melelahkan, saya tetap semangat karena ingin memberikan yang terbaik saat tampil nanti. Apalagi ini bagian dari rangkaian Erau, jadi tentu ada rasa bangga bisa ikut terlibat di dalamnya,” tuturnya.

Di sisi lain, kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan selama mengikuti latihan. 

Kemarau panjang membuat suhu di lapangan terasa cukup panas, sementara kondisi lapangan yang berdebu juga menuntut penari lebih menjaga kondisi tubuh.

“Kendalanya mungkin lebih ke kondisi tubuh karena cuacanya ekstrem. Beberapa bulan terakhir memang kemarau panjang, panasnya cukup terasa dan di lapangan juga sedikit berdebu,” jelasnya.

Meski begitu, ia berharap kondisi tersebut tidak mengurangi semangat para penari hingga hari pelaksanaan. 

Ia juga berharap seluruh peserta dapat menjaga kesehatan, semakin kompak dalam latihan, dan mampu menjalankan setiap rangkaian pertunjukan sesuai dengan yang telah dipersiapkan.

“Harapannya semoga latihan sampai hari pelaksanaan bisa berjalan lancar, semua penari tetap sehat dan semakin kompak,” kata dia.

Ia juga berharap Tari Massal Erau 2026 dapat memberikan kesan bagi masyarakat yang menyaksikan sekaligus menjadi pertunjukan yang mampu memperkenalkan keberagaman budaya Kalimantan Timur.

“Semoga nanti pertunjukannya bisa berjalan maksimal, masyarakat bisa menikmati dan terhibur,” pungkasnya. (kriz)