DPRD Berau Prihatin Kebutuhan BBM Capai 83 Ribu, Namun Hanya 47 Ribu Disetujui
Anggota Komisi II DPRD Berau, Sutami.
POSKOTAKALTIMNEWS,
BERAU : Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di
Kabupaten Berau kembali menjadi perhatian DPRD. Persoalan yang muncul di
sejumlah SPBU dinilai tidak cukup hanya diselesaikan dengan mempercepat
distribusi, tetapi dari persoalan mendasar, yakni kesesuaian kuota dengan
kebutuhan riil masyarakat yang harus terpenuhi.
Anggota Komisi II
DPRD Berau, Sutami, mengungkap ada kesenjangan cukup besar antara kebutuhan BBM
berdasarkan pendataan di lapangan dengan kuota yang disetujui.
Dalam hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) baru-baru ini, kebutuhan BBM Berau disebut mencapai
sekitar 83 ribu kiloliter. Namun, kuota yang disetujui hanya sekitar 47 ribu
kiloliter.
“Gap-nya agak jauh.
Gap itulah yang ingin kita kejar,” kata Sutami saat dikonfirmasi melalui
WhatsApp, Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, selisih
kebutuhan dan kuota tersebut harus segera dicarikan solusi. Pemerintah
Kabupaten Berau bersama DPRD didorong untuk menyurati BPH Migas agar kuota BBM
dapat ditambah sesuai kebutuhan masyarakat di lapangan.
Sutami mengingatkan
kembali tujuan awal keberadaan Jobber di Berau, diharapkan dapat memangkas
waktu distribusi BBM ke SPBU. Sebelum adanya Jobber, Berau harus menunggu
pasokan dari daerah lain seperti Samarinda, bahkan Tarakan.
“Keberadaan Jobber
itu tujuannya untuk mempercepat distribusi BBM ke stasiun-stasiun pengisian
bahan bakar umum (SPBU). Dulu tidak ada Jobber di Berau, kita susah menunggu
dari Samarinda, bahkan mungkin dari Tarakan,” ujarnya.
Karena itu,
keberadaan Jobber seharusnya memberikan dampak nyata berupa distribusi yang
lebih cepat dan minim keterlambatan.
Namun, dari hasil
RDP, DPRD terungkap bahwa kuota BBM yang tersedia melalui Jobber tidak
sepenuhnya diperuntukkan bagi Kabupaten Berau. Pasokan tersebut juga dibagi
untuk Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
Skema pembagiannya,
kata Sutami, berada di kisaran 55:45 hingga 60:40, dengan Berau mendapatkan
porsi sekitar 55 sampai 60 persen.
“Ini juga
mempengaruhi asumsi kita. Keberadaan Jobber itu kita kira hanya untuk Berau,
ternyata tidak,” katanya.
Persoalan tidak
berhenti pada besaran kuota. DPRD Berau juga menyoroti kesiapan cadangan BBM di
Jobber. Sutami menyebut hanya terdapat satu tangki cadangan yang juga harus
menopang kebutuhan dua Kabupaten.
Kondisi tersebut
dinilai perlu menjadi perhatian serius mengingat distribusi BBM ke Berau sangat
bergantung pada jalur laut dan kondisi geografis. Jika pasokan terlambat satu
hingga dua hari, dampaknya dapat langsung dirasakan masyarakat di lapangan.
“Kita perlu di Jobber
itu, kita minta dan mohon untuk ditambah lagi (tangki cadangan), mengingat
letak geografis Kabupaten Berau,” tegasnya.
Menurut Sutami,
persoalan cuaca dan kondisi sungai yang dapat mempengaruhi kapal untuk
bersandar seharusnya tidak menjadi alasan ketika kelangkaan terjadi.
Sebaliknya, seluruh potensi hambatan tersebut harus diantisipasi sejak awal
dengan memperkuat cadangan.
Sutami juga meminta
distribusi BBM tidak hanya berpusat di kawasan perkotaan. Wilayah hulu dan
pesisir seperti Kelay, Segah hingga kawasan pesisir Berau harus mendapatkan
perhatian yang sama.
Ia menilai keterlambatan pasokan ke wilayah pesisir dapat menimbulkan dampak lebih besar karena masyarakat di kawasan tersebut memiliki ketergantungan tinggi terhadap BBM untuk aktivitas sehari-hari, khususnya nelayan dan transportasi laut.
“Kecepatan dan ketepatan
waktu mendistribusikan itu bukan hanya di perkotaan, di empat kecamatan kota
terdekat, tetapi sampai ke hulu, ke Kelay, Segah, bahkan ke pesisir,” jelasnya.
(sep/FN)