Bandara di Kaltim Didorong Jadi Pintu Gerbang UMKM Menuju Pasar Global

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Selama ini bandar udara identik sebagai sarana lalulintas penumpang dan pesawat. Tidak terbatas pada itu, ada potensi lain yang ingin didorong pihak Otorita Bandara di Kalimantan Timur, yaitu menjadikannya sebagai jalur penghubung produk lokal menuju pasar yang lebih luas.

 

Peluang itu coba dibuka Kantor Otoritas Bandar Udara (Otban) Wilayah VII Balikpapan bersama Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) Curug melalui Diklat Pemberdayaan Masyarakat (DPM) Digital Logistic for Export, Selasa (22/9/2026).

 

Pelatihan tersebut tidak hanya berbicara tentang bagaimana barang dikirim. Lebih jauh, masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), dikenalkan pada peluang memperluas pasar melalui pemanfaatan teknologi, sistem logistik, dan jaringan transportasi.

 

Kepala Kantor Otban Wilayah VII Balikpapan, Ferdinan Nurdin, mengatakan semakin luas pasar yang dapat dijangkau produk UMKM, semakin besar pula peluang meningkatnya aktivitas pengiriman barang melalui bandar udara.

 

“Semakin luas jangkauan pasar produk UMKM, semakin terbuka pula peluang peningkatan arus pengiriman barang melalui bandar udara,” ujar Ferdinan saat dikonfirmasi, Rabu (23/9/2026).

 

Menurutnya, peluang tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari pengembangan ekosistem transportasi udara. Sebab, bandar udara tidak hanya berfungsi menghubungkan orang dari satu daerah ke daerah lain, tetapi juga dapat menjadi bagian dari rantai distribusi barang.

 

Bagi pelaku UMKM, pasar yang lebih luas berarti peluang mendapatkan konsumen baru. Namun, ketika pasar berkembang, kebutuhan terhadap distribusi barang juga ikut meningkat.

 

Di titik inilah logistik menjadi penting. Produk yang dihasilkan pelaku usaha tidak cukup hanya bagus. Produk juga harus mampu dikemas, dipasarkan, dikirim, dan sampai ke konsumen dengan sistem yang tepat.

 

DPM Digital Logistic for Export hadir untuk memberikan pemahaman tersebut. Dalam pelatihan ini, peserta mendapatkan wawasan praktis mengenai ekspor dan logistik bersama Iko dari Usaha Kreatif Mandiri (UKM) Mendunia, termasuk langkah-langkah sederhana dan aplikatif untuk mulai menjangkau pasar yang lebih luas.

 

Ferdinan berharap pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti sebagai materi pelatihan.  “Harapannya peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga bisa langsung menerapkannya sesuai potensi usaha masing-masing,” katanya.

 

Program serupa sebelumnya juga pernah dilakukan Ferdinan bersama PPI Curug ketika bertugas di Bandara Kalimarau, Berau. Menurutnya, pelaksanaan saat itu mendapat respons positif. Bahkan, ada peserta yang langsung mencoba menerapkan pengetahuan yang diperoleh dan merasakan manfaat ekonomi ketika kegiatan masih berlangsung.

 

Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan program serupa kembali didorong. Penguatan sektor kargo juga menjadi penting di tengah dinamika industri penerbangan.

 

Ferdinan menyebut fluktuasi harga minyak dunia dan kenaikan harga avtur menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi sektor penerbangan. Karena itu, bandar udara perlu melihat potensi aktivitas lain di luar sektor penumpang.

 

“Bandar udara diharapkan tidak hanya bertumpu pada aktivitas dan penerimaan dari sektor penumpang, tetapi juga mampu mengoptimalkan potensi lain melalui pemanfaatan aset serta peningkatan aktivitas pengiriman barang dan kargo,” ujarnya.

 

Jika semakin banyak produk UMKM yang masuk ke pasar nasional maupun internasional, maka kebutuhan terhadap distribusi dan pengiriman barang berpotensi ikut tumbuh.

 

Aktivitas tersebut pada akhirnya dapat memperkuat pergerakan kargo melalui bandar udara sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Dengan kata lain, produk UMKM yang terjual lebih jauh dapat menciptakan kebutuhan logistik yang lebih besar.

 

Program Digital Logistic for Export tersebut juga memiliki kaitan dengan agenda pemerintah daerah dalam mendorong ekspor nonmigas dan nonbatu bara.

 

Hal itu sejalan dengan Keputusan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 100.3.3.1/K.230/2026 tentang Pembentukan Satuan Tugas Percepatan Peningkatan Ekspor Non Migas Non Batu Bara Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2026–2030.

 

Satgas tersebut antara lain diarahkan untuk menyinergikan strategi percepatan ekspor antarinstansi, memperluas akses pasar melalui penguatan fasilitasi dan informasi ekspor, serta memetakan komoditas unggulan Kalimantan Timur yang berpotensi ditingkatkan ekspornya .

 

Dalam susunan satgas, unsur kebandarudaraan di Kalimantan Timur juga dilibatkan dalam bidang Logistik, Akses dan Sarana Prasarana bersama sejumlah instansi serta pemangku kepentingan lainnya.

 

Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa sektor penerbangan memiliki hubungan dengan pengembangan aktivitas ekonomi daerah, terutama dalam mendukung pergerakan barang.

 

Selain Digital Logistic for Export, Otban Wilayah VII bersama PPI Curug juga menggelar DPM Hospitality and Effective Communication.

 

Sebanyak 24 peserta mengikuti pelatihan yang diarahkan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dalam memberikan pelayanan yang profesional, responsif, dan berorientasi kepada kebutuhan masyarakat.

 

Materi yang diberikan mencakup prinsip hospitality, komunikasi efektif, etika pelayanan, serta kemampuan membangun interaksi positif dengan pengguna jasa dan masyarakat.

 

Menurut Ferdinan, kemampuan tersebut tidak kalah penting dengan pembangunan fasilitas fisik. Di lingkungan transportasi dan pelayanan publik, masyarakat tidak hanya membutuhkan fasilitas yang memadai. Mereka juga membutuhkan petugas yang mampu memberikan informasi dengan jelas, memahami kebutuhan pengguna jasa, dan menangani berbagai situasi secara profesional.

 

“Pelayanan yang baik membutuhkan kemampuan berkomunikasi, memahami kebutuhan pengguna jasa, serta merespons berbagai situasi dengan baik,” katanya.

 

Dua program tersebut akhirnya memiliki dua jalur pemberdayaan yang berbeda namun saling berkaitan. Digital Logistic for Export menyasar peluang ekonomi dengan memperkuat pemahaman masyarakat mengenai ekspor, logistik, pasar, dan kargo.

 

Sementara Hospitality and Effective Communication menyasar manusia yang berada di balik pelayanan, dengan membangun kemampuan komunikasi dan budaya pelayanan yang lebih profesional. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) 2026.

 

Rangkaian kegiatan diawali laporan penyelenggaraan oleh Kepala Unit Pelatihan PPI Curug, Ferry Ardiansyah. DPM Digital Logistic for Export diikuti 50 peserta, sedangkan Hospitality and Effective Communication diikuti 24 peserta.

 

Pembukaan kegiatan juga diikuti secara daring melalui Zoom Meeting oleh sekitar 75 partisipan dari berbagai instansi dan elemen masyarakat. Kegiatan kemudian secara resmi dibuka Kepala Bagian Administrasi Akademik dan Ketarunaan PPI Curug, Triadi Nuryanto.

 

Dalam sambutannya, Triadi menyampaikan apresiasi atas kolaborasi PPI Curug dan Otban Wilayah VII dalam menghadirkan program pemberdayaan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

 

Program tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan peserta dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk meningkatkan kualitas pelayanan maupun mengembangkan kegiatan usaha.

 

Ferdinan juga berharap manfaat kegiatan serupa dapat diperluas oleh seluruh Kepala Bandar Udara UPBU dan General Manager bandar udara di wilayah kerja Otban Wilayah VII kepada masyarakat serta pelaku UMKM di wilayah masing-masing.

 

“Pada akhirnya, konektivitas udara tidak hanya diwujudkan melalui pergerakan orang, tetapi juga melalui peningkatan kualitas pelayanan serta kemampuan untuk menghubungkan produk dan potensi ekonomi daerah dengan pasar yang lebih luas,” pungkas Ferdinan. (sep/FN)