Rektor UMB Nahwani Fadelan tak Ingin Buru-buru Buka Prodi Baru, Fokus Benahi SDM dan Fondasi Kampus untuk Cetak Lulusan Berkualitas

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Kepemimpinan baru Universitas Muhammadiyah Berau (UMB) di bawah Nahwani Fadelan membawa arah berbeda. Alih-alih langsung mengejar ekspansi dengan membuka banyak program studi (Prodi) baru, Rektor yang baru dilantik ini memilih membenahi Fondasi Kampus.

 

Langkah tersebut menjadi prioritas awal Nahwani setelah resmi dipercaya memimpin UMB untuk masa bakti 2026-2030, menggantikan Muhammad Bayu.

 

“Pembenahan harus dimulai dengan melihat secara menyeluruh kekuatan yang dimiliki Universitas. Inventarisasi akan dilakukan terhadap sumber daya manusia (SDM), kondisi keuangan, sarana dan prasarana, hingga berbagai potensi internal lainnya,” ungkapnya.

 

Bagi Nahwani, pemetaan tersebut penting agar setiap program yang nantinya disusun tidak berhenti sebatas rencana di atas kertas. Program kerja itu harus realistis dan sesuai dengan kebutuhan Universitas serta kemampuan.

 

Substansinya adalah program kerja tersebut harus bisa direalisasikan dan diwujudkan.

 

“Tentu kita perlu memperhitungkan kapabilitas yang ada sebelum menyusun program ke depan,” ujar Nahwani saat diwawancarai usai pelantikan, Senin (28/9/2026) lalu.

 

Menurutnya, UMB memiliki potensi yang cukup besar untuk terus dikembangkan.

 

Saat ini terdapat 13 program studi yang berada di bawah 5 Fakultas, yakni Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Teknik dan Konservasi, Pertanian, Hukum, serta Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

 

Namun, keberadaan 13 Prodi tersebut tidak lantas membuat pengembangan berhenti pada penambahan jumlah. Nahwani menilai masing-masing bidang ilmu masih membutuhkan penguatan agar kualitas pendidikan yang diberikan kepada mahasiswa terus meningkat.  Karena itu, ia ingin pengembangan kampus dilakukan secara bertahap dan terukur.

 

Salah satu rencana pengembangan UMB yang sudah diwacanakan adalah pembukaan Program Studi Kepariwisataan. Rencana tersebut menunjukkan adanya peluang bagi UMB untuk memperluas bidang keilmuan yang ditawarkan.

 

Nahwani menegaskan pembukaan prodi baru tidak bisa dilakukan hanya karena ada kebutuhan untuk menambah pilihan pendidikan. Berbagai kesiapan harus terlebih dahulu dipenuhi, terutama menyangkut sarana, prasarana, serta fasilitas pendukung pembelajaran.

 

“Wacana pembukaan prodi baru sebenarnya sudah ada, yaitu Prodi Kepariwisataan. Namun, kami perlu menyiapkan sarana, prasarana, serta fasilitas tempatnya terlebih dahulu sebelum resmi membukanya,” jelasnya.

 

Untuk sementara, UMB akan lebih dahulu memperkuat prodi-prodi yang telah ada, khususnya program studi yang tergolong baru.

 

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan pertumbuhan UMB tidak hanya terlihat dari bertambahnya jumlah program studi, tetapi juga diikuti peningkatan kualitas akademik dan layanan pendidikan.

 

Bagi Nahwani, pembangunan kampus pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai gedung, jumlah fakultas, atau banyaknya program studi. Ada hal yang jauh lebih penting, yakni kualitas manusia yang dihasilkan.

 

Karena itu, peningkatan kualitas SDM menjadi salah satu perhatian dalam kepemimpinannya selama empat tahun ke depan. Ia berharap berbagai agenda universitas yang belum terealisasi dapat diakomodasi secara bertahap. Bersamaan dengan itu, kualitas proses pengajaran juga akan terus didorong agar mahasiswa memperoleh pendidikan yang semakin baik.

 

Penguatan internal tersebut diharapkan bermuara pada meningkatnya kualitas lulusan UMB.

“Tentu dari SDM kita harus tingkatkan, agar jebolan-jebolan UMB semakin berkualitas,” pungkasnya. (sep/FN)