Ketimpangan Kualitas Pendidikan Dinilai Akar Masalah Penerimaan Siswa Baru di Kaltim
Anggota
Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, Damayanti
POSKOTAKALTIMNEWS, SAMARINDA: Menjelang dibukanya proses penerimaan peserta didik baru di Kalimantan Timur, sorotan tajam muncul terhadap kesenjangan mutu pendidikan antar sekolah yang dinilai sebagai sumber utama persoalan tahunan dalam sistem seleksi.
Bukan hanya soal zonasi, tapi juga disparitas
kualitas antar satuan pendidikan yang terus dibiarkan. Anggota Komisi IV DPRD
Kalimantan Timur, Damayanti, menyampaikan keprihatinan terhadap situasi ini.
Menurutnya, perdebatan seputar penerimaan
siswa baru tak akan pernah selesai jika akar masalahnya yakni ketimpangan
kualitas sekolah tidak ditangani secara menyeluruh.
"Selama masyarakat masih melihat
perbedaan mencolok antara sekolah unggulan dan sekolah lain, tekanan untuk
masuk ke sekolah favorit akan terus tinggi. Ini bukan salah sistem, tapi karena
kualitas belum merata," ujarnya, Sabtu (21/6/2025).
Damayanti menyebut kondisi di beberapa
wilayah, seperti Balikpapan, sebagai gambaran nyata ketimpangan. Ia
mengungkapkan bahwa tidak semua wilayah memiliki akses yang sama terhadap
pendidikan negeri, bahkan ada kecamatan yang belum memiliki satu pun SMA negeri
berdiri.
"Situasi ini menimbulkan pertanyaan
besar: ke mana anak-anak harus bersekolah jika fasilitas tidak tersedia di
lingkungan tempat tinggal mereka?" katanya.
Selain keterbatasan infrastruktur, ia juga
menyinggung distribusi guru dan tenaga pendidik berkualitas yang belum merata.
Ketimpangan ini, menurutnya, menciptakan persepsi bahwa hanya sekolah tertentu
yang layak menjadi tujuan, sementara sekolah lain terpinggirkan secara
sistemik.
Dampaknya, siswa dari keluarga kurang mampu
kian terdesak, terutama jika tidak berhasil lolos seleksi ke sekolah negeri.
Dalam konteks ini, Damayanti menilai kebijakan
bantuan pendidikan seperti GratisPol masih memiliki celah karena belum
sepenuhnya menyasar siswa dari sekolah swasta yang sering menjadi alternatif
terakhir.
“Banyak anak yang akhirnya masuk sekolah
swasta karena tidak tertampung di negeri. Mereka tetap butuh dukungan. Jangan
sampai bantuan pendidikan hanya berhenti di siswa negeri,” ucapnya.
Damayanti menegaskan bahwa reformasi
pendidikan di Kalimantan Timur tidak cukup hanya dilakukan melalui sistem
seleksi masuk.
Kedepannya, yang lebih penting adalah perbaikan sistemik yang menyentuh pemerataan fasilitas, tenaga pendidik, dan dukungan pembiayaan lintas jenis sekolah.
“Pendidikan adalah fondasi masa depan daerah ini. Kalau kita serius ingin membangun SDM unggul, maka tidak boleh ada sekolah yang tertinggal hanya karena lokasi atau statusnya,” pungkasnya.(ADV DPRD KALTIM)