Pangkas Waktu 5 Jam, Jalur Laut Berau–Tarakan Kini ‘Secepat Penerbangan Mini’
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Berau, Andi Marewangeng.
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU :
Perjalanan laut yang dulu melelahkan kini berubah drastis. Rute Berau menuju
Tarakan yang sebelumnya memakan waktu hingga 8 jam, kini bisa ditempuh hanya
sekitar 3 jam berkat hadirnya armada speedboat berkecepatan tinggi.
Perubahan ini bukan
sekadar soal memangkas waktu tempuh, tetapi juga menjadi titik balik
konektivitas antarwilayah di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara membuka
akses lebih cepat bagi wisatawan, pelaku usaha, hingga distribusi ekonomi.
Kepala Dinas
Perhubungan Kabupaten Berau, Andi Marewangeng, menyebut inovasi transportasi
ini sebagai langkah strategis dalam mendorong kemajuan daerah.
“Dari pengamatan kami
prinsipnya, membuka ruang seluas-luasnya untuk usaha. Karena yang kita dorong
itu pariwisata dan ekonomi,” ujarnya,baru-baru ini.
Transformasi ini
terasa signifikan. Jika sebelumnya masyarakat harus menghabiskan hampir
seharian di laut, kini perjalanan bisa dipangkas lebih dari separuh waktu.
Speedboat dengan
mesin berkekuatan hingga 250 PK memungkinkan perjalanan melaju cepat tanpa
mengorbankan kenyamanan. Bahkan, berdasarkan uji coba langsung, waktu tempuh
bisa lebih singkat dari perkiraan. Andi mengaku turut merasakan langsung
pengalaman tersebut. Ia berangkat dari Tarakan menuju Tanjung Batu dan
melanjutkan perjalanan ke Berau dalam satu rangkaian perjalanan.
“Bayangkan dengan
hanya sekitar 2 jam 10 menit sampai Tanjung Batu. Total ke Berau sekitar 3 jam.
Kalau kondisi normal, bisa kurang dari itu,” ungkapnya.
Kecepatan ini membuat
jalur laut tersebut kini terasa seperti “penerbangan mini”—cepat, efisien, dan
semakin diminati.
Di balik kecepatan
itu, Pemkab Berau tetap memberikan penegasan bahwa keselamatan tidak boleh ditawar. Dinas Perhubungan Berau
telah menyiapkan berbagai sistem pendukung untuk memastikan perjalanan tetap aman.
Salah satunya dengan pemasangan repeater komunikasi di wilayah Tanjung Batu,
yang terhubung dengan titik di Sangalaki dan Semama.
Dengan sistem ini,
komunikasi antara kapal dan daratan tetap terjaga, bahkan saat berada di tengah
laut. Tak hanya itu, armada speedboat juga diwajibkan dilengkapi teknologi
modern seperti Automatic Identification System (AIS) dan komunikasi satelit.
Teknologi ini memungkinkan posisi kapal dipantau secara langsung (real-time).
“Jadi pergerakan
kapal bisa kita kontrol. Ini penting untuk keselamatan,” jelas Andi. Dengan
waktu tempuh yang semakin singkat, jalur Berau–Tarakan diprediksi akan menjadi
urat nadi baru bagi pertumbuhan ekonomi kawasan.
Akses yang lebih
cepat akan memudahkan mobilitas wisatawan menuju destinasi unggulan Berau,
sekaligus memperlancar distribusi barang dan jasa antarwilayah. Kapasitas
speedboat yang mencapai 62 penumpang juga memberi ruang bagi pelaku usaha
transportasi lokal untuk berkembang.
“Ini peluang besar.
Kita ingin ekonomi bergerak lebih cepat,” katanya. Namun di tengah optimisme
tersebut, pemerintah juga menemukan catatan penting. Masih ada laporan terkait
speedboat yang beroperasi tanpa izin resmi atau belum terdaftar di Dinas Perhubungan.
Kondisi ini dinilai
berisiko, terutama dari sisi keselamatan penumpang. Andi menegaskan bahwa
seluruh operator wajib mematuhi aturan administrasi dan standar keselamatan
yang telah ditetapkan. Tidak ada toleransi bagi pelanggaran. “Kita ingin
pariwisata nyaman, tapi keselamatan juga harus terjaga. Semua harus tertib
administrasi,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan
agar kejadian kecelakaan transportasi laut di daerah lain tidak sampai terulang
di Berau. “Kita berdoa jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di
sini,” pungkasnya. Dengan kehadiran armada cepat ini, Berau kini memasuki babak
baru dalam konektivitas laut. Waktu tempuh yang semakin singkat membuka banyak
peluang, namun juga menuntut pengawasan yang lebih ketat. (sep/FN)