Karhutla Makin Meluas di Berau, Pemkab Panggil Perusahaan untuk Membantu Tangani Titik Api

img

Bupati Berau Sri Juniarsih Mas bersama unsur Forkopimda saat melakukan pemantauan langsung lokasi karhutla  di Kecamatan Teluk Bayur, pada Selasa, 18/8/2026. (foto : sep/fn)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Berau semakin mengkhawatirkan. Meluasnya titik api di tengah kondisi lahan yang kering membuat upaya pemadaman menghadapi tantangan yang tidak ringan.

 

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian serius Pemkab Berau berada di kawasan Labanan, Kecamatan Teluk Bayur. Di mana kondisi di lapangan menunjukkan ancaman karhutla berpotensi menjalar ke wilayah lain apabila tidak segera dikendalikan.

 

Situasi tersebut mendorong Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Berau turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi terkini. Bupati Berau Sri Juniarsih Mas memimpin pemantauan lokasi karhutla pada Selasa (18/8/2026).

 

Menurut Sri Juniarsih, kondisi cuaca panas yang disertai banyaknya kawasan hutan di Berau meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

 

“Unsur Forkopimda hari ini terjun langsung ke lokasi karhutla, karena kami anggap kondisi panas El Nino yang dibarengi dengan daerah yang mempunyai banyak hutan seperti Berau sehingga berisiko terjadi kebakaran,” ujar Sri Juniarsih.

 

Pemerintah Kabupaten Berau sebenarnya telah memiliki armada penanganan karhutla yang tersebar untuk mendukung penanganan di seluruh kecamatan. Namun, persoalan muncul ketika titik api bertambah dan berada di sejumlah lokasi dalam waktu yang bersamaan. Kondisi tersebut membuat armada dan personel yang tersedia harus bekerja dengan kemampuan terbatas.

 

Sri Juniarsih mengakui, besarnya titik api saat ini membuat pemerintah daerah tidak mungkin mengendalikan seluruh lokasi hanya dengan kekuatan yang dimiliki. “Kalau titik apinya sangat besar seperti sekarang, kita tidak bisa menyelesaikan itu semua,” ungkapnya.

 

Persoalan lain yang turut menjadi kendala adalah jumlah sumber daya manusia (SDM) yang tersedia untuk melakukan pemadaman. Penanganan karhutla saat ini dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP), TNI, hingga Polri.

 

Meski demikian, banyaknya titik yang harus ditangani membuat kebutuhan terhadap personel dan dukungan peralatan menjadi semakin besar. Menghadapi kondisi tersebut, Pemkab Berau berencana memanggil sejumlah perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Berau untuk ikut ambil bagian dalam penanganan karhutla.

 

Perusahaan yang berada di sekitar lokasi titik api menjadi salah satu pihak yang akan diajak berkontribusi. Langkah tersebut dinilai penting agar penanganan kebakaran dapat dilakukan dengan dukungan sumber daya yang lebih besar.

 

Sri Juniarsih mengatakan, pemanggilan perusahaan tersebut akan dilakukan secepatnya. “Paling tidak malam ini kita panggil sejumlah perusahaan,” katanya.

 

Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat penanganan karhutla yang saat ini membutuhkan kerja sama lintas sektor.

 

Dengan kondisi kebakaran yang berpotensi terus meluas, keterlibatan berbagai pihak dinilai menjadi penting. Pemerintah, aparat, perusahaan, dan masyarakat diharapkan dapat bergerak bersama untuk mencegah api semakin menyebar.

 

Selain upaya pemadaman di lapangan, pemerintah daerah juga berharap kondisi cuaca segera berubah dan hujan turun di wilayah Berau. Sebagai bentuk ikhtiar, Pemkab Berau akan menggelar salat Istisqa pada Rabu (19/8/2026). Salat tersebut menjadi bagian dari upaya spiritual masyarakat dan pemerintah untuk memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan.

 

“Besoknya, Rabu (19/8/2026), kita akan menggelar salat Istisqa, kita berdoa kepada Allah SWT supaya Berau diturunkan hujan segera,” ungkap Sri Juniarsih.

 

Harapan turunnya hujan juga berkaitan erat dengan kondisi lahan yang saat ini kering. Hujan diharapkan dapat membantu membasahi lahan sekaligus mengurangi risiko api semakin mudah menjalar. Namun, pemerintah tetap menekankan bahwa penanganan karhutla tidak bisa hanya menunggu datangnya hujan. Upaya pemadaman dan pencegahan tetap harus dilakukan secara maksimal di lapangan.

 

Di tengah situasi karhutla yang semakin mengkhawatirkan, masyarakat juga diminta berperan aktif mencegah munculnya titik api baru. Bupati Berau mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Menurutnya, kondisi lahan yang kering membuat api sangat mudah menjalar dan sulit dikendalikan.

 

“Saya juga menekankan kepada masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena saat ini semuanya kering dan akan menjalar ke mana-mana,” tegasnya.

 

Imbauan tersebut menjadi penting karena pencegahan dinilai jauh lebih efektif dibandingkan melakukan pemadaman setelah api terlanjur meluas.

 

Pemerintah berharap masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama pembakaran lahan secara terbuka di tengah kondisi cuaca dan lahan yang kering.

 

Hingga saat ini, upaya pemadaman dan penanganan karhutla terus dilakukan secara bersama-sama. Personel gabungan dikerahkan untuk mengendalikan titik api sekaligus mencegah kebakaran meluas ke kawasan lainnya. Pemerintah daerah juga terus memantau perkembangan kondisi di lapangan dan berupaya mengoptimalkan sumber daya yang tersedia.  (sep/FN)