Bupati Sri Juniarsih Minta BNPB-BMKG Lanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca hingga Karhutla Benar-benar Terkendali
Bupati Sri Juniarsih Mas saat meninjau kesiapan pelaksanakan OMC di Bandara Kalimarau.
POSKOTAKALTIMNEWS,
BERAU : Bupati Berau Sri Juniarsih Mas tidak ingin
penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berhenti di tengah jalan. Meski
hujan mulai turun di sejumlah wilayah dan titik panas dilaporkan menurun, namun
ancaman kebakaran masih muncul di beberapa lokasi.
Karena itu, Sri
Juniarsih meminta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan
Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melanjutkan Operasi Modifikasi
Cuaca (OMC) di Kabupaten Berau hingga kondisi karhutla benar-benar terkendali.
OMC yang dilakukan
untuk membantu mendatangkan hujan tersebut telah memasuki hari kelima pada
Jumat (28/8/2026). Namun, hujan yang dihasilkan belum turun secara merata di
seluruh wilayah yang membutuhkan, sementara kondisi lahan yang kering masih
menyimpan potensi munculnya titik api baru.
“Saya akan kembali
komunikasi dengan BNPB pusat agar tetap bertahan di Kabupaten Berau. Menurut
saya, penanganan karhutla harus sampai selesai. Karena hingga saat ini
kebakaran hutan masih kerap terjadi,” ujar Sri Juniarsih.
Menurutnya,
keberadaan tim BNPB di Berau masih sangat dibutuhkan. Selain membantu
pelaksanaan OMC, tim di lapangan dapat memantau perkembangan karhutla dan
mengambil langkah cepat ketika kembali ditemukan titik api.
Bagi Sri Juniarsih,
OMC tidak cukup hanya dilihat dari ada atau tidaknya hujan yang turun. Operasi
tersebut perlu terus dimanfaatkan selama masih terdapat potensi awan yang dapat
disemai dan kondisi karhutla belum sepenuhnya aman.
Pemerintah Kabupaten
Berau pun terus memperkuat penanganan di darat. Petugas BPBD, Dinas Pemadam
Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat), tim pengendalian kebakaran hutan dan
lahan (Dalkarhutla), hingga relawan kebakaran masih dikerahkan untuk menangani
titik-titik kebakaran yang ditemukan.
Upaya dari udara
melalui OMC dan penanganan langsung di lapangan, menjadi bagian dari strategi
pemerintah untuk menekan penyebaran karhutla di tengah musim kemarau.
Pelaksanaan OMC
sejauh ini menunjukkan hasil yang cukup positif. Jumlah titik panas di wilayah
Berau tercatat mengalami penurunan secara signifikan, setelah operasi
modifikasi cuaca dilakukan. Namun menurut Sri Juniarsih, penurunan tersebut
bukan berarti ancaman karhutla telah berakhir.
Pasalnya kondisi
kemarau masih berlangsung. Cuaca yang kering membuat lahan tetap mudah terbakar
dan kebakaran berpotensi kembali terjadi apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Karena itu, Bupati
meminta masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan dan tidak menganggap
penurunan titik panas sebagai tanda bahwa ancaman karhutla telah selesai.
“Kita bersama-sama
menjaga diri dan lingkungan dari ancaman karhutla. Jika melihat titik api,
segera laporkan agar dapat cepat ditangani dan kondisi bisa segera diatasi,”
imbaunya.
Sri Juniarsih juga
menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mencegah kebakaran. Sebab,
selain penanganan ketika api sudah muncul, pencegahan menjadi langkah penting
untuk mencegah kebakaran meluas.
Dengan kondisi cuaca
yang masih kering, pemerintah daerah berharap dukungan berbagai pihak tetap
berjalan. Termasuk dukungan BNPB dan BMKG melalui OMC, sehingga peluang
turunnya hujan dapat terus dimanfaatkan untuk membantu membasahi wilayah yang
rawan terbakar.
Bagi Pemkab Berau,
penurunan titik panas menjadi sinyal positif. Namun, selama api masih ditemukan
dan musim kemarau belum berakhir, upaya penanganan karhutla belum dapat
dikatakan selesai. (sep/FN/Advertorial)