Otban Wilayah VII Perkuat Sinergi Penerbangan di Tengah Tantangan Papua, Ferdinan Nurdin Dorong Kesamaan Langkah dan Konektivitas Udara
Kepala Otban Wilayah VII, Ferdinan Nurdin (kedua di kiri) saat menghadiri Rakorwil Otoritas Bandar Udara Wilayah IX dan X yang berlangsung di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Kamis (27/8/2026).
POSKOTAKALTIMNEWS,
BERAU : Menjaga konektivitas udara di Papua bukan
perkara sederhana. Kondisi geografis, kebutuhan penerbangan perintis,
pembangunan bandar udara hingga dinamika keamanan membuat sektor penerbangan di
wilayah tersebut membutuhkan koordinasi dan sinergi lintas sektor yang kuat.
Kondisi inilah yang
menjadi salah satu perhatian dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Otoritas
Bandar Udara Wilayah IX dan X yang berlangsung di Kota Sorong, Papua Barat
Daya, Kamis (27/8/2026).
Kepala Otoritas
Bandar Udara (Otban) Wilayah VII, Ferdinan Nurdin, turut hadir dalam forum
tersebut. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi dan
pertukaran pengalaman antar-Otban dalam menghadapi tantangan penyelenggaraan
penerbangan dengan karakteristik wilayah yang berbeda.
Rakorwil tersebut
dibuka langsung oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, dan
dihadiri jajaran Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Hadir pula Direktur
Keamanan Penerbangan Capt. Sigit Hariyanto, perwakilan Direktorat Angkutan
Udara (DAU), Direktorat Bandar Udara (DBU), serta Direktorat Keamanan
Penerbangan (DKP) yang menjadi narasumber dalam kegiatan.
Sejumlah unsur
eksternal Kementerian Perhubungan juga ikut hadir, di antaranya Pangkogabwilhan
III, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) wilayah Sorong, serta
para kepala daerah yang berada di wilayah kerja Otban Wilayah IX dan X.
Rangkaian kegiatan diawali sambutan Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu.
Dalam sambutannya,
Elisa menyampaikan apresiasi sekaligus aspirasi terkait perhatian pemerintah
pusat terhadap kondisi dan kebutuhan pelayanan penerbangan di wilayah Papua.
Kondisi geografis
dengan wilayah yang luas dan karakteristik antardaerah yang berbeda menjadikan
transportasi udara sebagai salah satu penghubung penting bagi masyarakat maupun
aktivitas pembangunan. Karena itu, penguatan pelayanan, keselamatan dan
keamanan penerbangan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya
memperkuat konektivitas Papua.
Persoalan tersebut
kemudian menjadi salah satu perhatian dalam arahan Direktur Jenderal
Perhubungan Udara Lukman F. Laisa. Ia menyampaikan sejumlah isu strategis,
mulai dari kondisi keamanan penerbangan di Papua, penyelenggaraan penerbangan
perintis, pembangunan dan pengembangan bandar udara, hingga berbagai langkah
peningkatan keamanan penerbangan.
Pembahasan mengenai
keamanan juga mengemuka dalam paparan Pangkogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto. Ia menyampaikan
berbagai capaian dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua sekaligus membahas
perkembangan situasi keamanan terkini.
Dalam pembahasan
tersebut turut disoroti kesiapsiagaan pengamanan bandar udara ketika menghadapi
kondisi darurat maupun dinamika keamanan yang dapat memengaruhi operasional
penerbangan. Hal ini menegaskan bahwa pengelolaan bandar udara di Papua
membutuhkan kesiapan tidak hanya dari sisi operasional, tetapi juga koordinasi
yang kuat dengan unsur pemerintah, pertahanan dan keamanan.
Sementara itu menurut
Kepala Otban Wilayah VII Balikpapan, Ferdinan Nurdin, forum tersebut menjadi
momentum penting untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi antar-Otban.
Perbedaan
karakteristik wilayah dan tingkat kompleksitas penyelenggaraan penerbangan
membuat pertukaran pengalaman menjadi penting agar setiap tantangan dapat
dihadapi dengan pendekatan yang tepat.
“Forum ini menjadi
ruang penting untuk memperkuat sinergi, koordinasi, sekaligus bertukar
pengalaman antarwilayah Otoritas Bandar Udara, khususnya dalam menghadapi
berbagai tantangan penyelenggaraan penerbangan yang memiliki karakteristik dan
tingkat kompleksitas berbeda,” ujar Ferdinan.
Menurutnya, kesamaan
langkah antarinstansi menjadi salah satu kunci dalam menciptakan
penyelenggaraan penerbangan yang aman, selamat dan andal. Hal tersebut juga
menjadi semakin penting ketika sektor penerbangan berhadapan dengan kondisi
wilayah yang memiliki tantangan geografis maupun keamanan seperti Papua.
“Melalui forum ini,
diharapkan terbangun kesamaan langkah dan komitmen yang semakin kuat antara
pemerintah pusat, pemerintah daerah, unsur pertahanan dan keamanan, serta
seluruh pemangku kepentingan penerbangan,” kata Ferdinan.
Ia menegaskan,
sinergi tersebut tidak berhenti pada koordinasi antarlembaga, tetapi harus
bermuara pada peningkatan kualitas pelayanan penerbangan dan keberlanjutan
konektivitas udara.
“Tujuannya adalah
mewujudkan pengoperasian bandar udara dan pelayanan penerbangan yang selamat,
aman, tertib, andal, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung konektivitas serta
pemerataan pembangunan di wilayah Papua dan Indonesia secara keseluruhan,” tegasnya.
Rakorwil kemudian
dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) Standarisasi Pengoperasian,
Pelayanan, dan Keamanan Penerbangan. Forum tersebut menghadirkan narasumber
dari sejumlah direktorat di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.
Pembahasan diarahkan
untuk memperkuat standar pengoperasian, pelayanan, keselamatan, dan keamanan
penerbangan. Bagi Otban Wilayah VII, keikutsertaan dalam forum ini menjadi
bagian dari komitmen untuk terus membangun koordinasi dan kolaborasi
antarwilayah.
Sebab, semakin kuat
koordinasi antarpemangku kepentingan, semakin besar pula peluang untuk
menghadirkan pelayanan penerbangan yang konsisten, aman dan mampu menjawab
kebutuhan masyarakat.
Rangkaian kegiatan
ditutup dengan Papua Aviation Awards, sebagai bentuk apresiasi terhadap
kontribusi dan kinerja para pemangku kepentingan dalam mendukung
penyelenggaraan penerbangan di wilayah Papua.
Kehadiran Otban
Wilayah VII melalui Ferdinan Nurdin dalam forum tersebut sekaligus menegaskan
pentingnya peran Otban dalam membangun komunikasi lintas wilayah dan memastikan
penyelenggaraan penerbangan terus bergerak menuju standar pelayanan yang
semakin baik.
Pada akhirnya,
penguatan sinergi tersebut bukan semata-mata soal operasional bandar udara.
Lebih jauh, penerbangan menjadi bagian penting dalam membuka akses, menjaga
konektivitas, serta mendukung pemerataan pembangunan di Papua dan Indonesia.
(sep/FN)